Mungkin 3 tahun yang lalu aku bisa merasa teramat muda,
namun sekarang terasa semakin berjiwa muda.. hahahha, umurku sekarang memasuki
26 tahun lewat 1 bulan di tahun 2016 ini. Banyak sekali kejutan-kejutan indah
yang sengaja atau memang jalan takdir-Nya harus aku lalui.
Banyak yang bilang bahwa purnama itu indah, tapi melalui 3
purnama dengan hati merintih pun tetaplah indah tergantung seberapa banyak kopi
yang dihirup ditemani asap menthol yang melepus dibawah udara malam Jakarta.
Aku tidak ada yang berubah sedikitpun dari fisik seorang
gadis mungil berparas manis berkelakuan sosialis. Tak ada yang kurang
sedikitpun tentang pemikiran idealis gadis metropolis. Hanya sekarang bertambah
sedikit spekulatif dan atraktif, yaa.. kalian pasti bisa menebak.. tantangan
hidup tidak akan bisa semenarik ini jika kalian tidak bertindak spekulatif!
Atraktif yaa pasti, karena aku pun merasa telah dikutuk untuk menjadi
sangat-sangat atraktif! (red: bawaan lahir).
Semua orang yang mengenalku pasti setuju mengatakan bahwa
aku wanita yang sedikit penuh kejutan. Aku tidak pernah merasa membuat sebuah
kejutan tapi anehnya banyak orang malah merasa teramat terkejut mengenal sosok
aku. Menjadi sosok yang begitu mengejutkan bukanlah cita-citaku, itu hanya
sekelumit nyinyiran orang yang melihat sebuah buku bercover underground,
padahal isinya hanya sebuah biografi.
Ironis memang, memegang peringkat ke-6 sebagai ibukota
terpadat di dunia , http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/259434-jakarta-kota-terpadat-ke-6-dunia
, banyak warga Jakarta malah merasa hampir tidak tenang hidup di kota
metropolitan, bukan masalah kehedonisan, bisa jadi karena tajamnya sebuah
gesekan, persaingan, atau bahkan hanya sebuah komentar-komentar murahan. Jiwa
komentar adalah jaring sebuah lingkaran setan, tak akan pernah ada ujungnya.
Tanpa tersadar semua komentar menjadi begitu menjatuhkan. Yang terbaik
dilakukan adalah ABAIKAN!!!
Bukan hidup namanya kalau tanpa nyinyiran dan komentar,
bahkan orang jauh saja bisa tiba-tiba merasa mengenal diri kita sebegitu dekat
hanya dengan sebuah ucapan, atau orang yang memang dekat bisa begitu merasa
asing ketika sebuah komentar terstimulus dalam pikiran.
Begitulah kira-kira 1 tahun terakhir alasan kedua orang tua
ku memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahannya. Disayangkan memang,
ketika omongan menjadi sebuah momok maghligai rumah tangga, ketika manisnya
ucapan menghancurkan kasih sayang, ketika seuntai kata tak bisa lagi dijadikan
pegangan, bahkan alasan mendamaikan malah menjadi sebuah pertikaian. Standing applause
buat semua persepsi keterpurukan pemikiran , bahkan di umur mereka yang tidak
lagi muda.
Aku dan tiga adikku memang menjadi korban, setiap anak pasti
menjadi korban ke egoisan. Sedih .. memang.. menjadi seorang kakak, anak
tertua, wanita, tulang punggung adalah predikat yang membanggakan sekaligus
tantangan.. kuat itu bukan pilihan tetapi sebuah keharusan, pundak tidak lagi
menjadi sandaran, tetapi sudah menjadi tumpuan, dan aku kira sedih itu hanya
sebentar tapi ini hidup dan bahagia pasti menunggu di ujung sana.. iyaaa.. di
depan!
Sebenarnya ini bukan menceritakan bagaimana membuka sebuah
aib keluarga, aku sadar ini adalah jalan takdir seorang manusia, manusia itu
perlu belajar dan Alhamdulillah semua pembelajaran telah Tuhan berikan.
Keluarga adalah sebuah benteng utama perkembangan seorang
anak. Ayah dan ibu adalah pioneer keberhasilan pendidikan, sikap, serta
pergaulan. Sekarang aku dan adik-adikku beranjak dewasa, walaupun memang
akselerasi pendewasaan. Kami tidak merasa sedikitpun kekurangan, malah kami
saling menguatkan, disaat semua orang menjatuhkan, kami menguatkan bunda untuk
tetap bisa tersenyum, kami memberi semangat nenek untuk mencoba ikhlas menerima
semua keadaan. Walaupun kami tidak pernah tahu kapal ini akan karam atau
berhasil ke tepian.
Ini saat-saat terberat, tahun terberat, namun aku tetap
yakin bahwa sebuah ketulusan akan berakhir dengan senyuman.
Tidak sedikit pula yang berspekulatif bahwa aku adalah
seorang wanita pembangkang, murahan, pengkhianat, sampah, wanita sombong, tidak
tahu di untung, tidak bisa pegang amanah, skizofrenia, autism, gadis jalanan,
freak, psikopat, bahkan satu kali ada seseorang sampai mengeluarkan sumpah
serapahnya agar aku mati terkena penyakit ganas yang tidak bisa disembuhkan.
Aku hanya “tersenyum”.
Semua perkataan tidak baik datang dari hati yang tidak baik,
hati yang dengki, bahkan iri. Sampai saat ini, aku hanya mengadu kepada Dzat
pemberi hidup. Akankah semua jalan hidup harus selalu diratapi, ketika hanya
karena keegoisan harus menyakiti seseorang, apakah hanya karena cinta ditolak
uang bisa menjadi jawaban, apakah ketika perlakuan kasar bisa diibaratkan sebuah
kemakluman hubungan. Semua orang bisa menganggap dirinya rasional dan orang
yang di judge itu irasional.. memang.. ketika hati begitu lembut, tak pernah
ada kata buruk terucap, yang ada hanya doa untuk kalian yang selalu menemani di
saat semua luput dari hidup.
Aku masih terus berjuang , selalu , dan akan terus menjadi
kebanggaan.
Saat in memang terasa berat, tapi aku yakin di depan semua
orang yang aku sayang akan menungguku dengan pelukan dan senyuman.
Aku tidak akan meninggalkan kalian sendirian.. I’m promise
Love.
Grandma, Mom, Little Sista
Good Luck Isma...
BalasHapusSabar y, keep spirit, keep fight, and keep istiqamah. Allah Bless You,
BalasHapusThanks all 😊
BalasHapus