Siang ini, seperti biasa aku lebih senang
menyendiri dibandingkan pergi kelayapan ke mall-mall ibukota yang dipenuhi
dengan diskon-diskon besar menyambut kedatangan Hari Raya.
Kata Hari Raya, seketika menelusuri memori
ingatan, memutar semua kejadian-kejadian yang terekam jelas di memori hidupku dan
sesaat seperti ter-play back kembali di monitor penglihatan di mataku. Seketika
itu pula, dada ini terasa sesak oleh perasaan emosional yang aku sendiri pun
tak tahu dari mana datangnya, yang aku tahu saat ini mata dan wajahku telah
basah oleh air mata.
Aku telah dewasa kini, dan menjadi dewasa
bukanlah pilihanku sendiri, tapi hidup yang mengantarkanku ke posisi ini. Ini hal
yang lumrah bagi ilmuan-ilmuan psikologi yang telah mengklasifikasikan
fase-fase kehidupan manusia sesuai dengan batas umurnya, masa anak-anak, masa
remaja, dan kedewasaan merupakan suatu fase wajib yang harus dilalui oleh
setiap manusia.

Aku hari ini memang sangat amat berbeda dengan
diriku masa anak-anak, aku kecil yang polos, manis, periang, pemberani, pintar,
penurut, dan rajin, menjadikan aku kecil merasa selalu disayang oleh banyak
orang. Aku kecil pun menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan seperti saat ini
dengan selalu beribadah, puasa, mengaji, bersekolah, dan terkadang menyisihkan
sisa uangnya untuk memberi peminta-minta yang selalu mangkal di depan
sekolahnya, walaupun ia tak pernah tahu dan mengerti mengapa ia harus melakukan
hal-hal yang diperintahkan agama dan orang tua. Yang ia tahu hanyalah bagaimana
ia bisa melakukan apa yang diajarkan agamanya di sekolah dan ajaran yang
diperintahkan oleh keluarganya, sehingga bisa berlebaran dengan puasa yang
tidak bolong dan mendapatkan euphoria di Hari Raya. Sangatlah bahagia aku kecil
dalam menjalani bulan Ramadhan dan menyambut Hari Raya.
Lain halnya dengan aku yang telah beranjak
remaja. Masa-masa remaja aku lalui dengan banyak hal-hal yang aku anggap kurang
membahagiakan. Dibesarkan oleh didikan kakek dan nenek, tidak membuatku serta
merta merasa seutuhnya bahagia. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang malah muncul
di benakku pada saat itu, banyak pergejolakan emosi yang membuat aku membentuk
kepribadianku menjadi sangat tertutup. Aku merasa tersisih, aku merasa
terbuang, dan aku merasa tidak pernah dianggap keberadaannya oleh kedua orang
tua ku. Aku makan dari hasil kerja keras kakekku, aku bersekolah juga dari
hasil kerja keras kakekku, aku merasakan apa itu kasih sayang dari seorang
nenek yang dengan sabar membesarkan aku. Sebetulnya tidak ada yang berbeda dan
bermasalah dari hal ini. Tapi pada saat itu, aku sangat rindu akan sosok ayah
yang bisa mengantarkan aku bersekolah dengan menuntun aku sepanjang jalan, aku
sangat rindu pada sosok ayah yang bisa sekedar menolong mengajariku cara
mengikat tali sepatu yang benar, aku sangat rindu sosok ayah yang bisa sekedar
memberiku semangat disaat aku menghadapi ujian-ujian sekolahku. Tidak hanya
sosok ayah yang aku rindukan, aku pun rindu akan perhatian-perhatian kecil
seorang ibu, aku rindu bagaimana seorang ibu berkomunikasi dengan
candaan-candaan kecil, aku rindu dengan rasa masakan yang mungkin bisa ibu
masak padaku pada saat itu. Pun ketika mereka orang tua ku, tidak pernah
menanyakan untuk membelikan baju lebaran kepadaku. Dan hingga saat ini pun, entah
mengapa terkadang aku selalu teringat akan memori menyedihkan itu setiap kali datang
bulan Ramadhan dan Hari Raya.
Kini aku telah beranjak dewasa, semua keadaan
telah berubah dan berbeda. Kehidupan yang mengajariku ilmu-ilmu dari hidup itu
sendiri. Keegoisan, keputusasaan, kesedihan, telah aku lalui seiring
berjalannya waktu. Kini nenek dan kakekku sudah amat sangat tua dan tidak lagi
memiliki daya upaya. Orangtua ku pun lambat laun telah menua, garis-garis
keriput dan tatapan penyesalan di matanya bisa aku lihat setiap kali aku
memandang wajah keduanya. Hingga tak terbersit sedikit pun keangkuhan dan
keegoisan dalam diriku ketika menatap wajah mereka.
Aku sedikit
demi sedikit telah berhasil membangun kehidupanku sendiri, aku sedikit demi
sedikit berusaha mengupayakan yang terbaik untuk kehidupanku kedepannya. Mungkin
kini aku bisa sedikit sombong dan angkuh karena pencapaianku, tapi Tuhan selalu
mengingatkan aku dan mengontrol hatiku, bahwa dibalik itu semua ada seuntai doa
yang selalu mereka panjatkan, ada buliran air mata yang menetes setiap malamnya
dalam sujud, ada raut wajah penyesalan setiap mereka menatap wajah anaknya. Haruskah
ada setitik sakit hati, egois, dan keangkuhan dalam hati yang sangat lembut? Tidak
adalah jawaban yang tepat untuk sebuah pertanyaan yang rasional.
Di Hari
Raya ini, yang sebentar lagi akan datang, semoga menjadi moment indah dalam
berkumpulnya suatu keluarga, menjadi sebuah hari yang bukan hanya sekedar
euphoria tapi dapat memberikan berkahnya kepada keluarga dan kita semua. Amiiiiiinn
ya robbal alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar