Sabtu, 26 Juli 2014

Makna Hari Raya

Siang ini, seperti biasa aku lebih senang menyendiri dibandingkan pergi kelayapan ke mall-mall ibukota yang dipenuhi dengan diskon-diskon besar menyambut kedatangan Hari Raya.

Kata Hari Raya, seketika menelusuri memori ingatan, memutar semua kejadian-kejadian yang terekam jelas di memori hidupku dan sesaat seperti ter-play back kembali di monitor penglihatan di mataku. Seketika itu pula, dada ini terasa sesak oleh perasaan emosional yang aku sendiri pun tak tahu dari mana datangnya, yang aku tahu saat ini mata dan wajahku telah basah oleh air mata.

Aku telah dewasa kini, dan menjadi dewasa bukanlah pilihanku sendiri, tapi hidup yang mengantarkanku ke posisi ini. Ini hal yang lumrah bagi ilmuan-ilmuan psikologi yang telah mengklasifikasikan fase-fase kehidupan manusia sesuai dengan batas umurnya, masa anak-anak, masa remaja, dan kedewasaan merupakan suatu fase wajib yang harus dilalui oleh setiap manusia.



Aku hari ini memang sangat amat berbeda dengan diriku masa anak-anak, aku kecil yang polos, manis, periang, pemberani, pintar, penurut, dan rajin, menjadikan aku kecil merasa selalu disayang oleh banyak orang. Aku kecil pun menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan seperti saat ini dengan selalu beribadah, puasa, mengaji, bersekolah, dan terkadang menyisihkan sisa uangnya untuk memberi peminta-minta yang selalu mangkal di depan sekolahnya, walaupun ia tak pernah tahu dan mengerti mengapa ia harus melakukan hal-hal yang diperintahkan agama dan orang tua. Yang ia tahu hanyalah bagaimana ia bisa melakukan apa yang diajarkan agamanya di sekolah dan ajaran yang diperintahkan oleh keluarganya, sehingga bisa berlebaran dengan puasa yang tidak bolong dan mendapatkan euphoria di Hari Raya. Sangatlah bahagia aku kecil dalam menjalani bulan Ramadhan dan menyambut Hari Raya.

Lain halnya dengan aku yang telah beranjak remaja. Masa-masa remaja aku lalui dengan banyak hal-hal yang aku anggap kurang membahagiakan. Dibesarkan oleh didikan kakek dan nenek, tidak membuatku serta merta merasa seutuhnya bahagia. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang malah muncul di benakku pada saat itu, banyak pergejolakan emosi yang membuat aku membentuk kepribadianku menjadi sangat tertutup. Aku merasa tersisih, aku merasa terbuang, dan aku merasa tidak pernah dianggap keberadaannya oleh kedua orang tua ku. Aku makan dari hasil kerja keras kakekku, aku bersekolah juga dari hasil kerja keras kakekku, aku merasakan apa itu kasih sayang dari seorang nenek yang dengan sabar membesarkan aku. Sebetulnya tidak ada yang berbeda dan bermasalah dari hal ini. Tapi pada saat itu, aku sangat rindu akan sosok ayah yang bisa mengantarkan aku bersekolah dengan menuntun aku sepanjang jalan, aku sangat rindu pada sosok ayah yang bisa sekedar menolong mengajariku cara mengikat tali sepatu yang benar, aku sangat rindu sosok ayah yang bisa sekedar memberiku semangat disaat aku menghadapi ujian-ujian sekolahku. Tidak hanya sosok ayah yang aku rindukan, aku pun rindu akan perhatian-perhatian kecil seorang ibu, aku rindu bagaimana seorang ibu berkomunikasi dengan candaan-candaan kecil, aku rindu dengan rasa masakan yang mungkin bisa ibu masak padaku pada saat itu. Pun ketika mereka orang tua ku, tidak pernah menanyakan untuk membelikan baju lebaran kepadaku. Dan hingga saat ini pun, entah mengapa terkadang aku selalu teringat akan memori menyedihkan itu setiap kali datang bulan Ramadhan dan Hari Raya.

Kini aku telah beranjak dewasa, semua keadaan telah berubah dan berbeda. Kehidupan yang mengajariku ilmu-ilmu dari hidup itu sendiri. Keegoisan, keputusasaan, kesedihan, telah aku lalui seiring berjalannya waktu. Kini nenek dan kakekku sudah amat sangat tua dan tidak lagi memiliki daya upaya. Orangtua ku pun lambat laun telah menua, garis-garis keriput dan tatapan penyesalan di matanya bisa aku lihat setiap kali aku memandang wajah keduanya. Hingga tak terbersit sedikit pun keangkuhan dan keegoisan dalam diriku ketika menatap wajah mereka.

Aku sedikit demi sedikit telah berhasil membangun kehidupanku sendiri, aku sedikit demi sedikit berusaha mengupayakan yang terbaik untuk kehidupanku kedepannya. Mungkin kini aku bisa sedikit sombong dan angkuh karena pencapaianku, tapi Tuhan selalu mengingatkan aku dan mengontrol hatiku, bahwa dibalik itu semua ada seuntai doa yang selalu mereka panjatkan, ada buliran air mata yang menetes setiap malamnya dalam sujud, ada raut wajah penyesalan setiap mereka menatap wajah anaknya. Haruskah ada setitik sakit hati, egois, dan keangkuhan dalam hati yang sangat lembut? Tidak adalah jawaban yang tepat untuk sebuah pertanyaan yang rasional.

Di Hari Raya ini, yang sebentar lagi akan datang, semoga menjadi moment indah dalam berkumpulnya suatu keluarga, menjadi sebuah hari yang bukan hanya sekedar euphoria tapi dapat memberikan berkahnya kepada keluarga dan kita semua. Amiiiiiinn ya robbal alamin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar