Minggu, 25 Desember 2016

Cerita Memang Tidak Selalu Indah, Tergantung Bagaimana Menyikapinya.. Happy New Year 2017

Menggunakan istilah alur mundur dalam sebuah cerita, semua kisah yang ter- flashback pasti mengingatkan kembali kepada sosok gadis kecil nan manis yang penuh dengan angan dan cita-cita.
Lingkungan tidak sepenuhnya mendukung semua harapan, setidaknya dukungan motivasi orang tersayang dan diri sendiri cukup untuk membuat jalan hidup menjadi begitu mudah. 



Jalan ku terasa tertatih, sejak kondisi ekonomi keluarga semakin terasa menyedihkan. Sebagai anak pertama dan diasuh oleh orang tua papaku, aku sudah mulai belajar prihatin sedari kecil karena kakekku mengajarkan hal seperti itu. Tak ada hadiah jika aku tidak jadi juara kelas, tak ada jalan-jalan jika nilai sekolahku dibawah rata-rata. Pernah satu kali aku merasa sangat kedinginan karena nenekku menghukumku dengan mengguyur seluruh badanku yang masih berseragam sekolah sambil mencubit paha kanan ku ketika melihat nilai matematika sd ku mendapat point 5. Nilai yang memalukan katanya dengan nada tinggi. Aku menangis. Dan sejak saat itu, aku benci dengan angka 5. Sangat! 

Memasuki sekolah menengah pertama hingga sekolah kejuruan favorit sebenarnya tidak membuatku merasa bangga. Biasa saja. Belajar giat sudah makanan keseharianku. Karena dengan belajar, aku tahu bahwa masa depanku akan lebih baik. 

Aku sosok perempuan yang sederhana seharusnya, karena memakai jeans dan kaos oblong terasa sangat bahagia bagiku. That's a simple me! 

Hidupku memang ku buat sedemikian simpel sampai pada suatu saat aku merasa dunia sedemikian rumitnya, Kakekku pergi, ayahku di phk dr pekerjaannya, aku masih sekolah, adikku juga sekolah, dan disaat yg sama aku terserang manic depresif serta obsessive compulsive disorder. 
Aku menyembuhkan diriku sendiri dengan menyembunyikan-nya bertahan tahun dari orang-orang terdekatku. 
Sekolah dan masa depanku merupakan hal yg lebih penting dibanding kelainan kepribadian mental ku. 

Aku tidak pernah mau menceritakan kesedihanku, kemarahanku, atau kekecewaanku. Cukup aku yang merasa bahwa diasingkan, dikucilkan, tidak dihargai, dan di judge merupakan hal yang memang harus diterima tanpa harus membalas. 
Sebutan anak haram, anak kampung, anak terlantar sudah mampir ke telinga sejak aku kecil. Aku sedih tetapi aku tidak pernah membalas. 

Dari kecil aku tidak pernah diajarkan membalas semua hal yang menyakitkan hatiku. Jalan hidup yang mengajariku apa itu balas dendam!
Bukan dengan kembali mencaci, cukup dengan membuktikan bahwa hidupku bisa sebegitu bahagia nya.

Bukan dengan mengutuk, cukup dengan berdoa yang terbaik untuk jalan hidup mereka. 

Usiaku 26 tahun di tahun ini, penghujung tahun yang kembali mengingatkanku apa arti dari kehidupan. 

Apa yang sudah pergi memang harus diikhlaskan, apa yang diraih memang semestinya disyukuri.

Terima kasih Tuhan  untuk segala jalan hidup yang kau tunjukkan. Terima kasih telah menciptakan kesempurnaan dibalik ketidaksempurnaan. Terima kasih ayah mengajari kami arti bertahan hidup. Terima kasih semua yang mengenalkanku kesedihan dan kekecewaan, aku tidak akan pernah sekuat dan setegar ini jika tidak ada kalian. 
Terima kasih cinta yang telah berulang kali menyakiti hingga aku mengerti apa itu kesetiaan. 

Dan aku akan trus berjuang.  

#withlove 
#lovemywonderfullife 

*shouraya

Selasa, 23 Februari 2016

TIME FLIES SO FAST....................


Mungkin 3 tahun yang lalu aku bisa merasa teramat muda, namun sekarang terasa semakin berjiwa muda.. hahahha, umurku sekarang memasuki 26 tahun lewat 1 bulan di tahun 2016 ini. Banyak sekali kejutan-kejutan indah yang sengaja atau memang jalan takdir-Nya harus aku lalui.

Banyak yang bilang bahwa purnama itu indah, tapi melalui 3 purnama dengan hati merintih pun tetaplah indah tergantung seberapa banyak kopi yang dihirup ditemani asap menthol yang melepus dibawah udara malam Jakarta.

Aku tidak ada yang berubah sedikitpun dari fisik seorang gadis mungil berparas manis berkelakuan sosialis. Tak ada yang kurang sedikitpun tentang pemikiran idealis gadis metropolis. Hanya sekarang bertambah sedikit spekulatif dan atraktif, yaa.. kalian pasti bisa menebak.. tantangan hidup tidak akan bisa semenarik ini jika kalian tidak bertindak spekulatif! Atraktif yaa pasti, karena aku pun merasa telah dikutuk untuk menjadi sangat-sangat atraktif! (red: bawaan lahir).

Semua orang yang mengenalku pasti setuju mengatakan bahwa aku wanita yang sedikit penuh kejutan. Aku tidak pernah merasa membuat sebuah kejutan tapi anehnya banyak orang malah merasa teramat terkejut mengenal sosok aku. Menjadi sosok yang begitu mengejutkan bukanlah cita-citaku, itu hanya sekelumit nyinyiran orang yang melihat sebuah buku bercover underground, padahal isinya hanya sebuah biografi.

Ironis memang, memegang peringkat ke-6 sebagai ibukota terpadat di dunia , http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/259434-jakarta-kota-terpadat-ke-6-dunia , banyak warga Jakarta malah merasa hampir tidak tenang hidup di kota metropolitan, bukan masalah kehedonisan, bisa jadi karena tajamnya sebuah gesekan, persaingan, atau bahkan hanya sebuah komentar-komentar murahan. Jiwa komentar adalah jaring sebuah lingkaran setan, tak akan pernah ada ujungnya. Tanpa tersadar semua komentar menjadi begitu menjatuhkan. Yang terbaik dilakukan adalah ABAIKAN!!!

Bukan hidup namanya kalau tanpa nyinyiran dan komentar, bahkan orang jauh saja bisa tiba-tiba merasa mengenal diri kita sebegitu dekat hanya dengan sebuah ucapan, atau orang yang memang dekat bisa begitu merasa asing ketika sebuah komentar terstimulus dalam pikiran.

Begitulah kira-kira 1 tahun terakhir alasan kedua orang tua ku memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahannya. Disayangkan memang, ketika omongan menjadi sebuah momok maghligai rumah tangga, ketika manisnya ucapan menghancurkan kasih sayang, ketika seuntai kata tak bisa lagi dijadikan pegangan, bahkan alasan mendamaikan malah menjadi sebuah pertikaian. Standing applause buat semua persepsi keterpurukan pemikiran , bahkan di umur mereka yang tidak lagi muda.

Aku dan tiga adikku memang menjadi korban, setiap anak pasti menjadi korban ke egoisan. Sedih .. memang.. menjadi seorang kakak, anak tertua, wanita, tulang punggung adalah predikat yang membanggakan sekaligus tantangan.. kuat itu bukan pilihan tetapi sebuah keharusan, pundak tidak lagi menjadi sandaran, tetapi sudah menjadi tumpuan, dan aku kira sedih itu hanya sebentar tapi ini hidup dan bahagia pasti menunggu di ujung sana.. iyaaa.. di depan!

Sebenarnya ini bukan menceritakan bagaimana membuka sebuah aib keluarga, aku sadar ini adalah jalan takdir seorang manusia, manusia itu perlu belajar dan Alhamdulillah semua pembelajaran telah Tuhan berikan.

Keluarga adalah sebuah benteng utama perkembangan seorang anak. Ayah dan ibu adalah pioneer keberhasilan pendidikan, sikap, serta pergaulan. Sekarang aku dan adik-adikku beranjak dewasa, walaupun memang akselerasi pendewasaan. Kami tidak merasa sedikitpun kekurangan, malah kami saling menguatkan, disaat semua orang menjatuhkan, kami menguatkan bunda untuk tetap bisa tersenyum, kami memberi semangat nenek untuk mencoba ikhlas menerima semua keadaan. Walaupun kami tidak pernah tahu kapal ini akan karam atau berhasil ke tepian.

Ini saat-saat terberat, tahun terberat, namun aku tetap yakin bahwa sebuah ketulusan akan berakhir dengan senyuman.

Tidak sedikit pula yang berspekulatif bahwa aku adalah seorang wanita pembangkang, murahan, pengkhianat, sampah, wanita sombong, tidak tahu di untung, tidak bisa pegang amanah, skizofrenia, autism, gadis jalanan, freak, psikopat, bahkan satu kali ada seseorang sampai mengeluarkan sumpah serapahnya agar aku mati terkena penyakit ganas yang tidak bisa disembuhkan.

Aku hanya “tersenyum”.

Semua perkataan tidak baik datang dari hati yang tidak baik, hati yang dengki, bahkan iri. Sampai saat ini, aku hanya mengadu kepada Dzat pemberi hidup. Akankah semua jalan hidup harus selalu diratapi, ketika hanya karena keegoisan harus menyakiti seseorang, apakah hanya karena cinta ditolak uang bisa menjadi jawaban, apakah ketika perlakuan kasar bisa diibaratkan sebuah kemakluman hubungan. Semua orang bisa menganggap dirinya rasional dan orang yang di judge itu irasional.. memang.. ketika hati begitu lembut, tak pernah ada kata buruk terucap, yang ada hanya doa untuk kalian yang selalu menemani di saat semua luput dari hidup.

Aku masih terus berjuang , selalu , dan akan terus menjadi kebanggaan.
Saat in memang terasa berat, tapi aku yakin di depan semua orang yang aku sayang akan menungguku dengan pelukan dan senyuman.

Aku tidak akan meninggalkan kalian sendirian.. I’m promise



Love.

Grandma, Mom, Little Sista

Sabtu, 26 Juli 2014

Makna Hari Raya

Siang ini, seperti biasa aku lebih senang menyendiri dibandingkan pergi kelayapan ke mall-mall ibukota yang dipenuhi dengan diskon-diskon besar menyambut kedatangan Hari Raya.

Kata Hari Raya, seketika menelusuri memori ingatan, memutar semua kejadian-kejadian yang terekam jelas di memori hidupku dan sesaat seperti ter-play back kembali di monitor penglihatan di mataku. Seketika itu pula, dada ini terasa sesak oleh perasaan emosional yang aku sendiri pun tak tahu dari mana datangnya, yang aku tahu saat ini mata dan wajahku telah basah oleh air mata.

Aku telah dewasa kini, dan menjadi dewasa bukanlah pilihanku sendiri, tapi hidup yang mengantarkanku ke posisi ini. Ini hal yang lumrah bagi ilmuan-ilmuan psikologi yang telah mengklasifikasikan fase-fase kehidupan manusia sesuai dengan batas umurnya, masa anak-anak, masa remaja, dan kedewasaan merupakan suatu fase wajib yang harus dilalui oleh setiap manusia.



Aku hari ini memang sangat amat berbeda dengan diriku masa anak-anak, aku kecil yang polos, manis, periang, pemberani, pintar, penurut, dan rajin, menjadikan aku kecil merasa selalu disayang oleh banyak orang. Aku kecil pun menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan seperti saat ini dengan selalu beribadah, puasa, mengaji, bersekolah, dan terkadang menyisihkan sisa uangnya untuk memberi peminta-minta yang selalu mangkal di depan sekolahnya, walaupun ia tak pernah tahu dan mengerti mengapa ia harus melakukan hal-hal yang diperintahkan agama dan orang tua. Yang ia tahu hanyalah bagaimana ia bisa melakukan apa yang diajarkan agamanya di sekolah dan ajaran yang diperintahkan oleh keluarganya, sehingga bisa berlebaran dengan puasa yang tidak bolong dan mendapatkan euphoria di Hari Raya. Sangatlah bahagia aku kecil dalam menjalani bulan Ramadhan dan menyambut Hari Raya.

Lain halnya dengan aku yang telah beranjak remaja. Masa-masa remaja aku lalui dengan banyak hal-hal yang aku anggap kurang membahagiakan. Dibesarkan oleh didikan kakek dan nenek, tidak membuatku serta merta merasa seutuhnya bahagia. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang malah muncul di benakku pada saat itu, banyak pergejolakan emosi yang membuat aku membentuk kepribadianku menjadi sangat tertutup. Aku merasa tersisih, aku merasa terbuang, dan aku merasa tidak pernah dianggap keberadaannya oleh kedua orang tua ku. Aku makan dari hasil kerja keras kakekku, aku bersekolah juga dari hasil kerja keras kakekku, aku merasakan apa itu kasih sayang dari seorang nenek yang dengan sabar membesarkan aku. Sebetulnya tidak ada yang berbeda dan bermasalah dari hal ini. Tapi pada saat itu, aku sangat rindu akan sosok ayah yang bisa mengantarkan aku bersekolah dengan menuntun aku sepanjang jalan, aku sangat rindu pada sosok ayah yang bisa sekedar menolong mengajariku cara mengikat tali sepatu yang benar, aku sangat rindu sosok ayah yang bisa sekedar memberiku semangat disaat aku menghadapi ujian-ujian sekolahku. Tidak hanya sosok ayah yang aku rindukan, aku pun rindu akan perhatian-perhatian kecil seorang ibu, aku rindu bagaimana seorang ibu berkomunikasi dengan candaan-candaan kecil, aku rindu dengan rasa masakan yang mungkin bisa ibu masak padaku pada saat itu. Pun ketika mereka orang tua ku, tidak pernah menanyakan untuk membelikan baju lebaran kepadaku. Dan hingga saat ini pun, entah mengapa terkadang aku selalu teringat akan memori menyedihkan itu setiap kali datang bulan Ramadhan dan Hari Raya.

Kini aku telah beranjak dewasa, semua keadaan telah berubah dan berbeda. Kehidupan yang mengajariku ilmu-ilmu dari hidup itu sendiri. Keegoisan, keputusasaan, kesedihan, telah aku lalui seiring berjalannya waktu. Kini nenek dan kakekku sudah amat sangat tua dan tidak lagi memiliki daya upaya. Orangtua ku pun lambat laun telah menua, garis-garis keriput dan tatapan penyesalan di matanya bisa aku lihat setiap kali aku memandang wajah keduanya. Hingga tak terbersit sedikit pun keangkuhan dan keegoisan dalam diriku ketika menatap wajah mereka.

Aku sedikit demi sedikit telah berhasil membangun kehidupanku sendiri, aku sedikit demi sedikit berusaha mengupayakan yang terbaik untuk kehidupanku kedepannya. Mungkin kini aku bisa sedikit sombong dan angkuh karena pencapaianku, tapi Tuhan selalu mengingatkan aku dan mengontrol hatiku, bahwa dibalik itu semua ada seuntai doa yang selalu mereka panjatkan, ada buliran air mata yang menetes setiap malamnya dalam sujud, ada raut wajah penyesalan setiap mereka menatap wajah anaknya. Haruskah ada setitik sakit hati, egois, dan keangkuhan dalam hati yang sangat lembut? Tidak adalah jawaban yang tepat untuk sebuah pertanyaan yang rasional.

Di Hari Raya ini, yang sebentar lagi akan datang, semoga menjadi moment indah dalam berkumpulnya suatu keluarga, menjadi sebuah hari yang bukan hanya sekedar euphoria tapi dapat memberikan berkahnya kepada keluarga dan kita semua. Amiiiiiinn ya robbal alamin.


Selasa, 17 Desember 2013

Karena hidup itu indah dan selalu bermakna..

Hampir tengah malam ketika aku mengetikkan jari-jariku di atas keyboard, tepatnya pukul 23.35 waktu Indonesia bagian Barat, malampun telah hening, mungkin hanya tinggal aku dan suara-suara senandung mp3 yang sudah menemaniku sejak 3 jam yang lalu, tentu saja untuk seukuran kota Jakarta ini bukan malam yang larut untuk memulai aktivitasnya di luar sana. Suasana malam semakin akrab semenjak kurang lebih 5 tahun berjalan menemani ke-isengan-ku mengutak-ngatik keingintahuanku akan Jakarta dan aktivitas malamnya. 23 tahun sudah aku di Jakarta dan selama itu pula kota yang kata orang Metropolitan telah memberikan atmosfirnya, sehingga tanpa ragu aku pun telah memiliki cap sebagai anak Jakarta.

Lupakan sejenak kebisingan Jakarta dan segala aktivitasnya, 20 halaman mungkin tidak cukup jika aku menuliskan bagaimana kota ini bisa sedemikian meriahnya, karena bukan hal itu yang ingin aku jabarkan ditulisanku malam ini.

Memang kota ini telah memberikan banyak moment yang masih terekam sangat jelas dalam memory otakku. Semua kisah tentang hidup ku yang mungkin jauh dari kata sempurna, dan benar kata orang bijak yang mengeluarkan pernyataan bahwa,”Tak ada satu pun manusia yang sempurna”. Penjabaran kata tidak sempurna pun memiliki banyak definisi tergantung setiap orang mendefinisikan kekurangannya masing-masing. Seperti aku, mendefinisikan ketidaksempurnaan-ku dengan banyak hal, mungkin aku kurang cantik dibandingkan Dian Sastro aktris tersohor dengan film layar lebar percintaan anak muda yang melejit di tahun 2000an,  aku pun gak setajir anak keturunan keluarga Bakrie yang memiliki asset triliyunan rupiah, dan mungkin aku pun tidak memiliki IQ diatas rata-rata seperti kepintaran yang dimiliki kaum-kaum Yahudi yang bisa membuat dunia serasa kecil di tangan mereka. Aku hanya gadis yang di tahun 2013 ini menginjak umur 23 tahun, berambut hitam lurus, berwajah oval, berdahi lebar, dengan mata sipit, dan tinggi tidak kurang dari 155 cm, yaa.. hanya gadis biasa, peranakan lokal, berbahasa Indonesia sangat fasih. Tak ada keahlian khusus apapun yang aku miliki. Hanya saja Tuhan memberikanku wajah yang manis dan perilaku ku yang sosialis, sehingga dengan mudah aku bisa beradaptasi dengan lingkungan baru yang aku hadapi. Yaa.. kurang lebih begitulah deskripsi atas gadis muda yang berpola pikir 5 tahun lebih tua dibanding usianya.

Wajahku memang terlihat 3 tahun lebih muda dari umurku yang sebenarnya, tapi hidup yang menuntutku untuk bertindak 5 tahun lebih tua dari usiaku, bisa jadi karena aku terlahir sebagai anak pertama dalam keluarga atau memang jalan hidupku yang cukup menguras emosi sehingga aku harus berpikir dan bertindak ekstra untuk kelangsungan hidupku.. yaa.. bisa jadi!!

Ini kali yang kesekian aku ditemani teman lamaku si “insomnia”, insomnia sangat akrab denganku sejak semester-semester akhir kuliahku. Yah, wajarlah namanya juga mahasiswa dulunya.. kalau nggak ngerjain paper work, ya.. nongkrong sana-sini sama teman-teman yang notabene memiliki tipikal pergaulan yang sama denganku “anak nongkrong”. Sebutan “anak nongkrong” mungkin bisa kalian bayangkan sebagai anak gaul yang punya banyak teman disana sini, yang kuliah hanya pulang dan nongkrong, juga pulang dan nge-gaul, dengan IPK pas-pasan, dan kuliah lebih dari 5 tahun. Tapi aku bisa dikategorikan sebagai anak nongkrong berprestasi. Berprestasi dengan IPK cumlaude dan berprestasi dengan kuliah yang pas 5 tahun.. hahahaa…

Aku sangat senang menceritakan tentang kehidupanku yang menurutku sangat menarik untuk diceritakan, mungkin kalian sudah sedikit membaca atau sekedar melihat-lihat tulisan-tulisanku sebelumnya. Hidupku biasa saja, tapi ada saja hal yang ingin aku bagikan untuk kalian-kalian yang senang untuk mengeksplor dan belajar tentang bagaimana seseorang menjalani hidup dan mengatasi permasalahan hidupnya.
Sedikit aku mem-flash-back dibulan yang sama di tahun yang berbeda, satu tahun yang lalu, dimana aku pernah menulis tentang malam tahun baru yang aku lewatkan di kota Paris Van Java yang begitu mengesankan dan tidak terasa waktu begitu sangat cepat memburu resolusiku yang pernah aku tuliskan di lembaran diary hidupku di tahun 2013 ini.

2012 membawa banyak kenangan mengesankan. Hari, bulan, serta tahunnya merangkak dengan jelas mengiringi kisah-kisah hidupku yang tidak pernah berhenti setiap harinya. 2012 penuh dengan perjuangan-perjuangan untuk mengejar titelku untuk menjadi seorang sarjana, sampai saat ini masih terbayang peluh disaat aku harus bekerja shift disalah satu hotel bintang empat di Jakarta dan masih harus mengejar ketikan skripsiku selepas aku bekerja, atau sekedar mendengar ocehan bosku yang sudah terlalu bosan menceramahiku karena aku selalu bertukar waktu kerja dengan temanku dengan alasan bertemu dosen. Begitulah perjuanganku yang “alhamdulilah” telah mencapai titik yang aku impikan untuk menjadi seorang sarjana Ekonomi di salah satu Universitas Negeri di Jakarta.

Ternyata 2012 tidak berpihak padaku untuk urusan cinta, banyak sudah pria yang datang dan pergi dalam hidupku di tahun lalu. Entah untuk serius menyakitiku atau sekedar bermain perasaan dengan gadis berwajah lugu sepertiku. Whatever the reason.. yang pasti saat itu hingga memasuki awal tahun 2013 aku sudah mulai hopeless untuk urusan percintaan dan aku sudah mulai mempersiapkan diri untuk menjomblo hingga jangka waktu yang tidak ditentukan.

Begitulah tahun 2012 yang begitu mengesankan. Hari-harinya sangat antusias untuk aku jalani. Satu resolusiku untuk membuat ayah, bunda, nenek, kakek, dan adik-adikku tersenyum ketika aku memakai toga telah terangkum sangat sempurna di bulan November tahun 2012 tepat di hari wisudaku. Peluh, lelah, dan olok-olok nyinyir orang tentang hidupku dan keluarga telah terbayar dengan senyuman lepas bunda dan mata berkaca-kaca ayah, saat aku menaiki podium kehormatan sebagai wisudawati.

Sudah satu tahun ketika hari bahagia itu berlalu dengan sempurna dan hari ini di bulan ke-12 di akhir tahun 2013 sekali lagi mengingatkanku akan resolusi hidupku yang dengan hitungan hari harus segera aku evaluasi.
Begitulah aku, sangat terobsesi dalam hidup. Hingga hidupku pun harus ter-planning dengan baik.

Kini aku menginjak 9 bulan bekerja di salah satu hotel berkelas bintang 5 di Jakarta Pusat. Pekerjaanku yaah.. Alhamdulillah masih terbilang halal (hahaha..) sehingga aku masih punya semangat untuk mejalani hari-hariku sebagai seorang greeter a.k.a penyambut tamu di lobby hotel bintang 5 yang terbilang megah. Sebelum aku bekerja sebagai penyambut tamu, aku memiliki profesi yang tak kalah pamornya sebagai sekretaris direksi di salah satu perusahaan asuransi syariah milik salah satu dosenku ketika aku kuliah. Hotel memang memiliki grade salary yang lebih bagus dibandingkan dengan office, dengan iming-iming gaji yang tinggi, alhasil aku berpindah dari seorang sekretaris direksi menjadi seorang penyambut tamu. Tidak ada yang berbeda sih, kalau dulu sebagai sekretaris aku selalu greeting bos-bosku yang parlente dan sekarang aku juga meng-greet tamu-tamu hotel yang tak kalah parlente. Tak ada satu pun ilmu Ekonomi atau Akuntansi yang bisa aku implementasikan di tempat kerjaku saat ini. Terkadang ada perasaan bersalah atas ilmu-ilmu yang telah aku pelajari tapi tidak pernah aku bisa sumbangkan untuk sekedar sampingan atau sebagai profesi.

Dan hal itu menjadi beban terbesar ku saat ini.

Dulu aku selalu semangat kuliah untuk mengejar cita-citaku untuk menjadi seorang auditor handal, tapi aku harus terima kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang aku rencanakan. Banyak yang mengolok-olok pekerjaanku sekarang atau sekedar menyepelekanku yang hanya sekedar penyambut tamu bertitel sarjana ekonomi.

Sebenarnya bukan pekerjaanku sekarang yang membuat aku memiliki beban tetapi ilmu yang telah aku pelajari dan perjuangkan tidak bisa aku gunakan yang membuatku hampir berpikir kalau ilmu yang aku dapat hanya sia-sia. Tak ada masalah buatku untuk bekerja sebagai penyambut tamu selagi itu halal, toh perusahaan pun memberikan aku salary yang menurutku lebih dari cukup, tak pernah juga olok-olok atau ocehan nyinyir orang-orang tentang pekerjaanku sebagai penyambut tamu  menjadi masalah besar dalam hidupku, wong aku yang kerja kok orang-orang yang repot. Sehingga pada satu kali aku berpikir bahwa tujuan awal aku menerima pekerjaan ini karena kehidupan keluargaku, sebagai anak pertama sering kali aku menyetel pikiranku agar tidak boleh egois dalam hidup. Pekerjaan yang aku jalani sekarang memberikan aku banyak sekali pelajaran hidup yang berharga. Belajar dimana aku harus bekerja dari nol dan harus termotivasi untuk bekerja lebih baik dengan target jenjang karir, juga belajar ketika pekerjaan yang kamu impikan ternyata tidak bisa menghasilkan salary yang lebih untuk kelangsungan hidup keluarga, kenapa harus dipaksakan?! Dan ketika ada pekerjaan yang memang memberikan kecukupan materi untuk kehidupanku dan keluargaku, haruskah aku abaikan?!

Ini adalah hal terindah kesekian kalinya ketika aku bisa membahagiakan keluargaku dari hasil jerih payahku bekerja. Bukan keegoisan yang mungkin malah bisa membuat mereka bersedih. Memang mereka tidak pernah menuntut, tapi alangkah lebih bahagianya kedua orangtua ketika sedikit beban mereka terbantu oleh anak-anaknya.

Ketika aku berpikir bahwa aku tahu jalan mana yang terbaik untukku, ternyata Tuhan selalu punya jalan terindah untuk aku jalani dan memberikan banyak pelajaran dalam hidupku.

Hidup itu indah tergantung bagaimana kita menjalaninya. Tetap berucap syukur Alhamdulillah. :) 





Sabtu, 22 Juni 2013

Apa Ada Yang Salah Dengan Cinta?

Ini telah kesekian kalinya aku putus cinta. Aku pun lupa sudah yang keberapa kali aku mengalami pupusnya harapan-harapan indah bersama orang yang mungkin kemarin pernah berjanji untuk membuatku bahagia.

Beberapa kali, ya.. sudah banyaklah aku merasa kecewa dan mungkin aku juga pernah mengecewakan. Hal itu wajar dalam setiap hubungan, ketika kita menyakiti, disakiti, menyayangi, disayangi, merupakan suatu bagian yang kompleks dalam menjalin sebuah hubungan.

Sesungguhnya atas dasar apa cinta itu menyakitkan? Tak pernah ada kata menyakiti dalam cinta, persepsiku adalah saling melengkapi, menyayangi, menerima semua kekurangan dan kelebihan, saling mengerti, dan saling menghargai, itulah arti cinta. Tapi pada prakteknya, semua terasa kompleks dengan penambahan faktor-faktor eksternal yang menguji seberapa kuat perasaan yang kau sebut dengan cinta.

Pernah beberapa kali aku bertemu seorang pria yang membuat aku jatuh cinta, mungkin awalnya sangat indah, berawal hubungan pun begitu berwarna, hingga setiap pagi aku terbangun dengan wajah sumringah hanya dengan membaca pesan singkat darinya. Mobile phone pun menjadi sahabat yang paling setia bahkan saksi bisu kisah-kisah cintaku dengannya. That’s simple, itulah cinta, perhatian kecil pun bisa menjadi sangat bermakna jika hal itu keluar dari mulut orang yang kau cintai dengan rasa cinta.

Tapi ternyata cinta itu begitu kompleks bagi wanita sepertiku.

Aku mendeskripsikan diriku sebagai wanita pekerja keras, memiliki kemauan yang keras, hingga terasa aku memiliki satu sifat keras kepala karena mungkin aku anak tertua di dalam keluarga. Umurku 23 tahun pada tahun ini, namun realitas pekerjaan dan hidupku menanjak seiring matangnya sifat dan attitude kerjaku. Pendidikan ku pun bertitel sarjana lulusan terbaik di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Namun dari sekian banyak hal terbaik yang aku sebutkan dalam hidupku, tetapi tetap saja aku tak bisa seiring berjalan dengan cinta.

Semua kelebihanku bisa menjadi kekurangan saat bersanding dengan cinta, terlalu perfectsionis hidupku, hingga mungkin banyak lelaki yang enggan menaruh angan-angan indah bersamaku. Mungkin terlalu cemburu ketika aku memiliki teman pria lebih banyak dari teman wanita, atau terlalu khawatir dengan sifat ramahku yang membuat setiap orang menyenangi gaya bergaulku.

Aku tidak sekompleks apa yang dipikirkan lelaki sebagian besar. Malah aku terlalu simple untuk memandang cinta dalam melengkapi hidupku.

Ketika aku tahu yang aku rasa itu cinta, aku akan membagi perasaan itu hingga kita menjalaninya dengan bahagia. Cinta itu sebenarnya indah, perjuangan untuk menggapai cinta pun juga sama indahnya. Untuk apa mempermasalahkan hal-hal yang dapat merusak cinta, toh, kalau cinta harusnya bisa saling percaya atau ketika kita harus melepaskan orang yang kita sayang demi orang yang dicintainya, itu pun juga cinta.

Janganlah terlalu kompleks memandang cinta, ketika kau tau perasaan yang tumbuh itu cinta, jalani dan perjuangkan. Dan jangan pernah karena alasan cinta, kamu menyakiti orang yang dicintai. Biarkan cinta yang memilih untuk dicinta.



Selasa, 07 Mei 2013

Harga Sebuah Kedewasaan !!


Siapa yang tahu kalau ternyata aku seorang wanita yang sangat keras. Berprinsip keras, berhati keras, sampai berkemauan keras. Aku telah menyimpan sifat itu puluhan tahun hingga kini. Siapa pula yang tahu, kalau sebenarnya sifat kerasku terbentuk dari lingkungan yang aku jalani hingga dari perihnya perjalanan hidup yang aku tempuh selama ini.

Ternyata bukan umur yang mendewasakan pemikiran serta sikap wanita keras sepertiku. Jalan hiduplah yang membuat sifat kerasku melebur dengan sempurna, sehingga dunia membuka mata kasat dan perasaanku pada suatu titik balik yang membuat wanita keras sepertiku dapat meleburkan keegoisan menjadi kedewasaan.

Sangat mahal harga sebuah “kedewasaan”, aku tidak pernah membeli kedewasaan, tapi ia dapat muncul ketika kau sudah tidak memiliki apa-apa lagi dihidupmu kecuali hasrat dan semangat. Aku pernah berada disituasi itu dan aku sangat bersyukur!

Bukan saat kau harus mengedepankan ego-mu dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang kau inginkan, tapi disaat kau mengikhlaskan jalan hidupmu dan kau berusaha dengan kuat untuk keluar dari himpitan yang menyiksamu. Bukan pada saat kau selalu menuntut, tapi pada saat kau berpikir akan orang-orang disekitarmu yang menjadi tanggung jawabmu. Bukan dimana kamu harus tinggal tapi bagaimana caranya kamu harus menyambung dan memikirkan nasibmu kedepan.

Pada saatnya semua manusia harus berada di titik dimana ia harus menentukan jalan hidupnya sendiri. Titik dimana hidupmu ditentukan oleh keputusan yang kamu ambil saat ini!

Aku masih sangat muda ketika situasi menuntutku menjadi dewasa, aku pun masih ingat jelas bagaimana hidup membuatku hampir menyerah kepada keegoisan dan hampir menjerumuskanku kepada keputusan –keputusan gambling terhadap jalan hidupku.

Berpikir instan itu sangat mudah apalagi mengimplementasikannya, semua tak butuh analisa. Belajarlah dari hidup, egoislah pada egomu, hingga kau dapat menemukan titik kedewasaan dari pembelajaran-pembelajaran hidup dari makhluk disekitarmu.

Temuilah kedewasaan itu, sebelum kau tersadar bahwa kedewasaan telah melewati batas kesanggupanmu untuk menggapainya.

Jumat, 08 Februari 2013

Apa yang telah dibuat oleh HIDUP?


Ternyata bukan hal yang mudah untuk bisa mengejar semua impian yang telah kita susun di langit-langit mimpi. Kerikil-kerikil masalah hingga bongkahan rintangan menjadi satu kesatuan kompleks yang harus aku lalui dalam pengembaraan mencari arti hidup.

Bukanlah aku yang egois Tuhan, tapi jalan-Mu sungguh membuat aku selalu mendapatkan kejutan-kejutan menarik yang bisa membuat mataku terbelalak akan kebesaran-Mu. Tujuan-Mu begitu indah dan sangat indah, melebihi semua angan-angan indah hidupku.

Bukanlah aku seseorang yang munafik ketika aku menyerah dan ada hasrat putus asa, tapi aku hanyalah seorang makhluk lemah yang hanya memiliki kekuatan semangat. Ini bukanlah akhir titik semangatku, ini merupakan awal perjalanan seorang aku menjadi wanita dewasa yang telah terjatuh dan tersungkur dalam perjalananku mencari jati diriku.

Sungguh begitu mengagumkan hal-hal yang telah aku lalui dalam hidup ini, menjadi seorang sarjana ekonomi yang tidak pernah bekerja dalam bidang ekonomi, apalagi akuntansi. Ingin sekali semua berjalan sesuai angan dan impianku. Tapi Tuhan tahu aku terlalu angkuh jika Ia berikan aku semua hal yang aku minta. Sehingga Ia memberikan jalan-jalan kerikil dan tak ada satu pun alas kaki yang bisa aku pakai untuk melaluinya.

Aku selalu tetap bersyukur Tuhan, ketika semua masalah menjadi satu-satunya teman hidupku dalam 23 tahun terakhir ini. Mungkin tak ada kata kuat, tak ada kata semangat, dan tak ada kata berjuang, jika Tuhan selalu memberikan semua kesenangan dalam hidup ini.

Hidup tak henti-hentinya membuat aku berdecak kagum, ketika semua keterbatasan menjadi jalan untuk kita meraih kesuksesan hidup. Buat apa mengeluh tak punya uang, untuk apa mengeluh kalau kita tidak pintar! Yang terpenting kita masih punya semangat yang terus membara di dada.

Tak ada kesuksesan yang diraih dengan instan! Orang sukses pun pernah merasakan berada di titik nadir kehidupan dan mereka bisa melaluinya, oleh karena itu mereka sukses!

Dan apakah ada perbedaan diantara manusia! Tidak pernah ada jawabannya! Kita bisa seperti Einstein, Seigmund Freud, Bill Gates, Neil Amstrong, Imam Ghazali, Valentino Rossi, David Beckham, Soekarno, BJ. Habibie, RA. Kartini, dan makhluk Tuhan lainnya yang memiliki kesempurnaan hidup.

Begitulah cerita hidup, yang aku yakin pasti memiliki beragam kisah dan warna ketika seorang manusia melewatinya. Kita begitu sangat rugi jika kita melewatkan sedetik saja kisah hidup kita tanpa kita mengisinya dengan hal-hal yang berarti..

Selamat menjalani hidup dan bergunalah dalam hidup, paling tidak untuk hidupmu sendiri J