Hampir tengah malam ketika aku
mengetikkan jari-jariku di atas keyboard, tepatnya pukul 23.35 waktu Indonesia
bagian Barat, malampun telah hening, mungkin hanya tinggal aku dan suara-suara
senandung mp3 yang sudah menemaniku sejak 3 jam yang lalu, tentu saja untuk
seukuran kota Jakarta ini bukan malam yang larut untuk memulai aktivitasnya di
luar sana. Suasana malam semakin akrab semenjak kurang lebih 5 tahun berjalan
menemani ke-isengan-ku mengutak-ngatik keingintahuanku akan Jakarta dan
aktivitas malamnya. 23 tahun sudah aku di Jakarta dan selama itu pula kota yang
kata orang Metropolitan telah memberikan atmosfirnya, sehingga tanpa ragu aku
pun telah memiliki cap sebagai anak Jakarta.
Lupakan sejenak kebisingan
Jakarta dan segala aktivitasnya, 20 halaman mungkin tidak cukup jika aku
menuliskan bagaimana kota ini bisa sedemikian meriahnya, karena bukan hal itu
yang ingin aku jabarkan ditulisanku malam ini.
Memang kota ini telah memberikan
banyak moment yang masih terekam sangat jelas dalam memory otakku. Semua kisah
tentang hidup ku yang mungkin jauh dari kata sempurna, dan benar kata orang
bijak yang mengeluarkan pernyataan bahwa,”Tak ada satu pun manusia yang
sempurna”. Penjabaran kata tidak sempurna pun memiliki banyak definisi
tergantung setiap orang mendefinisikan kekurangannya masing-masing. Seperti
aku, mendefinisikan ketidaksempurnaan-ku dengan banyak hal, mungkin aku kurang
cantik dibandingkan Dian Sastro aktris tersohor dengan film layar lebar
percintaan anak muda yang melejit di tahun 2000an, aku pun gak setajir anak keturunan keluarga
Bakrie yang memiliki asset triliyunan rupiah, dan mungkin aku pun tidak
memiliki IQ diatas rata-rata seperti kepintaran yang dimiliki kaum-kaum Yahudi
yang bisa membuat dunia serasa kecil di tangan mereka. Aku hanya gadis yang di
tahun 2013 ini menginjak umur 23 tahun, berambut hitam lurus, berwajah oval,
berdahi lebar, dengan mata sipit, dan tinggi tidak kurang dari 155 cm, yaa..
hanya gadis biasa, peranakan lokal, berbahasa Indonesia sangat fasih. Tak ada
keahlian khusus apapun yang aku miliki. Hanya saja Tuhan memberikanku wajah
yang manis dan perilaku ku yang sosialis, sehingga dengan mudah aku bisa
beradaptasi dengan lingkungan baru yang aku hadapi. Yaa.. kurang lebih
begitulah deskripsi atas gadis muda yang berpola pikir 5 tahun lebih tua
dibanding usianya.
Wajahku memang terlihat 3 tahun
lebih muda dari umurku yang sebenarnya, tapi hidup yang menuntutku untuk
bertindak 5 tahun lebih tua dari usiaku, bisa jadi karena aku terlahir sebagai anak
pertama dalam keluarga atau memang jalan hidupku yang cukup menguras emosi
sehingga aku harus berpikir dan bertindak ekstra untuk kelangsungan hidupku..
yaa.. bisa jadi!!
Ini kali yang kesekian aku
ditemani teman lamaku si “insomnia”, insomnia sangat akrab denganku sejak
semester-semester akhir kuliahku. Yah, wajarlah namanya juga mahasiswa
dulunya.. kalau nggak ngerjain paper work, ya.. nongkrong sana-sini sama
teman-teman yang notabene memiliki tipikal pergaulan yang sama denganku “anak
nongkrong”. Sebutan “anak nongkrong” mungkin bisa kalian bayangkan sebagai anak
gaul yang punya banyak teman disana sini, yang kuliah hanya pulang dan nongkrong,
juga pulang dan nge-gaul, dengan IPK pas-pasan, dan kuliah lebih dari 5 tahun. Tapi
aku bisa dikategorikan sebagai anak nongkrong berprestasi. Berprestasi dengan
IPK cumlaude dan berprestasi dengan kuliah yang pas 5 tahun.. hahahaa…
Aku sangat senang menceritakan
tentang kehidupanku yang menurutku sangat menarik untuk diceritakan, mungkin
kalian sudah sedikit membaca atau sekedar melihat-lihat tulisan-tulisanku
sebelumnya. Hidupku biasa saja, tapi ada saja hal yang ingin aku bagikan untuk
kalian-kalian yang senang untuk mengeksplor dan belajar tentang bagaimana
seseorang menjalani hidup dan mengatasi permasalahan hidupnya.
Sedikit aku mem-flash-back
dibulan yang sama di tahun yang berbeda, satu tahun yang lalu, dimana aku
pernah menulis tentang malam tahun baru yang aku lewatkan di kota Paris Van
Java yang begitu mengesankan dan tidak terasa waktu begitu sangat cepat memburu
resolusiku yang pernah aku tuliskan di lembaran diary hidupku di tahun 2013
ini.
2012 membawa banyak kenangan
mengesankan. Hari, bulan, serta tahunnya merangkak dengan jelas mengiringi
kisah-kisah hidupku yang tidak pernah berhenti setiap harinya. 2012 penuh
dengan perjuangan-perjuangan untuk mengejar titelku untuk menjadi seorang sarjana,
sampai saat ini masih terbayang peluh disaat aku harus bekerja shift disalah
satu hotel bintang empat di Jakarta dan masih harus mengejar ketikan skripsiku
selepas aku bekerja, atau sekedar mendengar ocehan bosku yang sudah terlalu
bosan menceramahiku karena aku selalu bertukar waktu kerja dengan temanku
dengan alasan bertemu dosen. Begitulah perjuanganku yang “alhamdulilah” telah
mencapai titik yang aku impikan untuk menjadi seorang sarjana Ekonomi di salah
satu Universitas Negeri di Jakarta.
Ternyata 2012 tidak berpihak
padaku untuk urusan cinta, banyak sudah pria yang datang dan pergi dalam
hidupku di tahun lalu. Entah untuk serius menyakitiku atau sekedar bermain
perasaan dengan gadis berwajah lugu sepertiku. Whatever the reason.. yang pasti
saat itu hingga memasuki awal tahun 2013 aku sudah mulai hopeless untuk urusan
percintaan dan aku sudah mulai mempersiapkan diri untuk menjomblo hingga jangka
waktu yang tidak ditentukan.
Begitulah tahun 2012 yang begitu
mengesankan. Hari-harinya sangat antusias untuk aku jalani. Satu resolusiku
untuk membuat ayah, bunda, nenek, kakek, dan adik-adikku tersenyum ketika aku
memakai toga telah terangkum sangat sempurna di bulan November tahun 2012 tepat
di hari wisudaku. Peluh, lelah, dan olok-olok nyinyir orang tentang hidupku dan
keluarga telah terbayar dengan senyuman lepas bunda dan mata berkaca-kaca ayah,
saat aku menaiki podium kehormatan sebagai wisudawati.
Sudah satu tahun ketika hari
bahagia itu berlalu dengan sempurna dan hari ini di bulan ke-12 di akhir tahun
2013 sekali lagi mengingatkanku akan resolusi hidupku yang dengan hitungan hari
harus segera aku evaluasi.
Begitulah aku, sangat terobsesi
dalam hidup. Hingga hidupku pun harus ter-planning dengan baik.
Kini aku menginjak 9 bulan
bekerja di salah satu hotel berkelas bintang 5 di Jakarta Pusat. Pekerjaanku yaah..
Alhamdulillah masih terbilang halal (hahaha..) sehingga aku masih punya
semangat untuk mejalani hari-hariku sebagai seorang greeter a.k.a penyambut
tamu di lobby hotel bintang 5 yang terbilang megah. Sebelum aku bekerja sebagai
penyambut tamu, aku memiliki profesi yang tak kalah pamornya sebagai sekretaris
direksi di salah satu perusahaan asuransi syariah milik salah satu dosenku
ketika aku kuliah. Hotel memang memiliki grade salary yang lebih bagus
dibandingkan dengan office, dengan iming-iming gaji yang tinggi, alhasil aku
berpindah dari seorang sekretaris direksi menjadi seorang penyambut tamu. Tidak
ada yang berbeda sih, kalau dulu sebagai sekretaris aku selalu greeting
bos-bosku yang parlente dan sekarang aku juga meng-greet tamu-tamu hotel yang
tak kalah parlente. Tak ada satu pun ilmu Ekonomi atau Akuntansi yang bisa aku
implementasikan di tempat kerjaku saat ini. Terkadang ada perasaan bersalah
atas ilmu-ilmu yang telah aku pelajari tapi tidak pernah aku bisa sumbangkan
untuk sekedar sampingan atau sebagai profesi.
Dan hal itu menjadi beban
terbesar ku saat ini.
Dulu aku selalu semangat kuliah
untuk mengejar cita-citaku untuk menjadi seorang auditor handal, tapi aku harus
terima kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang aku rencanakan. Banyak
yang mengolok-olok pekerjaanku sekarang atau sekedar menyepelekanku yang hanya
sekedar penyambut tamu bertitel sarjana ekonomi.
Sebenarnya bukan pekerjaanku
sekarang yang membuat aku memiliki beban tetapi ilmu yang telah aku pelajari
dan perjuangkan tidak bisa aku gunakan yang membuatku hampir berpikir kalau
ilmu yang aku dapat hanya sia-sia. Tak ada masalah buatku untuk bekerja sebagai
penyambut tamu selagi itu halal, toh perusahaan pun memberikan aku salary yang
menurutku lebih dari cukup, tak pernah juga olok-olok atau ocehan nyinyir
orang-orang tentang pekerjaanku sebagai penyambut tamu menjadi masalah besar dalam hidupku, wong aku
yang kerja kok orang-orang yang repot. Sehingga pada satu kali aku berpikir
bahwa tujuan awal aku menerima pekerjaan ini karena kehidupan keluargaku,
sebagai anak pertama sering kali aku menyetel pikiranku agar tidak boleh egois
dalam hidup. Pekerjaan yang aku jalani sekarang memberikan aku banyak sekali
pelajaran hidup yang berharga. Belajar dimana aku harus bekerja dari nol dan
harus termotivasi untuk bekerja lebih baik dengan target jenjang karir, juga
belajar ketika pekerjaan yang kamu impikan ternyata tidak bisa menghasilkan
salary yang lebih untuk kelangsungan hidup keluarga, kenapa harus dipaksakan?! Dan
ketika ada pekerjaan yang memang memberikan kecukupan materi untuk kehidupanku
dan keluargaku, haruskah aku abaikan?!
Ini adalah hal terindah kesekian
kalinya ketika aku bisa membahagiakan keluargaku dari hasil jerih payahku
bekerja. Bukan keegoisan yang mungkin malah bisa membuat mereka bersedih. Memang
mereka tidak pernah menuntut, tapi alangkah lebih bahagianya kedua orangtua
ketika sedikit beban mereka terbantu oleh anak-anaknya.
Ketika aku berpikir bahwa aku
tahu jalan mana yang terbaik untukku, ternyata Tuhan selalu punya jalan
terindah untuk aku jalani dan memberikan banyak pelajaran dalam hidupku.
Hidup itu indah tergantung
bagaimana kita menjalaninya. Tetap berucap syukur Alhamdulillah. :)