Ini telah kesekian kalinya aku putus cinta. Aku pun lupa
sudah yang keberapa kali aku mengalami pupusnya harapan-harapan indah bersama
orang yang mungkin kemarin pernah berjanji untuk membuatku bahagia.
Beberapa kali, ya.. sudah banyaklah aku merasa kecewa dan
mungkin aku juga pernah mengecewakan. Hal itu wajar dalam setiap hubungan,
ketika kita menyakiti, disakiti, menyayangi, disayangi, merupakan suatu bagian
yang kompleks dalam menjalin sebuah hubungan.
Sesungguhnya atas dasar apa cinta itu menyakitkan? Tak
pernah ada kata menyakiti dalam cinta, persepsiku adalah saling melengkapi,
menyayangi, menerima semua kekurangan dan kelebihan, saling mengerti, dan
saling menghargai, itulah arti cinta. Tapi pada prakteknya, semua terasa
kompleks dengan penambahan faktor-faktor eksternal yang menguji seberapa kuat
perasaan yang kau sebut dengan cinta.
Pernah beberapa kali aku bertemu seorang pria yang membuat
aku jatuh cinta, mungkin awalnya sangat indah, berawal hubungan pun begitu
berwarna, hingga setiap pagi aku terbangun dengan wajah sumringah hanya dengan
membaca pesan singkat darinya. Mobile phone pun menjadi sahabat yang paling
setia bahkan saksi bisu kisah-kisah cintaku dengannya. That’s simple, itulah
cinta, perhatian kecil pun bisa menjadi sangat bermakna jika hal itu keluar
dari mulut orang yang kau cintai dengan rasa cinta.
Tapi ternyata cinta itu begitu kompleks bagi wanita
sepertiku.
Aku mendeskripsikan diriku sebagai wanita pekerja keras,
memiliki kemauan yang keras, hingga terasa aku memiliki satu sifat keras kepala
karena mungkin aku anak tertua di dalam keluarga. Umurku 23 tahun pada tahun
ini, namun realitas pekerjaan dan hidupku menanjak seiring matangnya sifat dan
attitude kerjaku. Pendidikan ku pun bertitel sarjana lulusan terbaik di salah satu
Universitas Negeri di Jakarta. Namun dari sekian banyak hal terbaik yang aku
sebutkan dalam hidupku, tetapi tetap saja aku tak bisa seiring berjalan dengan
cinta.
Semua kelebihanku bisa menjadi kekurangan saat bersanding
dengan cinta, terlalu perfectsionis hidupku, hingga mungkin banyak lelaki yang
enggan menaruh angan-angan indah bersamaku. Mungkin terlalu cemburu ketika aku
memiliki teman pria lebih banyak dari teman wanita, atau terlalu khawatir
dengan sifat ramahku yang membuat setiap orang menyenangi gaya bergaulku.
Aku tidak sekompleks apa yang dipikirkan lelaki sebagian
besar. Malah aku terlalu simple untuk memandang cinta dalam melengkapi hidupku.
Ketika aku tahu yang aku rasa itu cinta, aku akan membagi
perasaan itu hingga kita menjalaninya dengan bahagia. Cinta itu sebenarnya
indah, perjuangan untuk menggapai cinta pun juga sama indahnya. Untuk apa
mempermasalahkan hal-hal yang dapat merusak cinta, toh, kalau cinta harusnya
bisa saling percaya atau ketika kita harus melepaskan orang yang kita sayang
demi orang yang dicintainya, itu pun juga cinta.
Janganlah terlalu kompleks memandang cinta, ketika kau tau
perasaan yang tumbuh itu cinta, jalani dan perjuangkan. Dan jangan pernah
karena alasan cinta, kamu menyakiti orang yang dicintai. Biarkan cinta yang
memilih untuk dicinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar