Selasa, 17 Desember 2013

Karena hidup itu indah dan selalu bermakna..

Hampir tengah malam ketika aku mengetikkan jari-jariku di atas keyboard, tepatnya pukul 23.35 waktu Indonesia bagian Barat, malampun telah hening, mungkin hanya tinggal aku dan suara-suara senandung mp3 yang sudah menemaniku sejak 3 jam yang lalu, tentu saja untuk seukuran kota Jakarta ini bukan malam yang larut untuk memulai aktivitasnya di luar sana. Suasana malam semakin akrab semenjak kurang lebih 5 tahun berjalan menemani ke-isengan-ku mengutak-ngatik keingintahuanku akan Jakarta dan aktivitas malamnya. 23 tahun sudah aku di Jakarta dan selama itu pula kota yang kata orang Metropolitan telah memberikan atmosfirnya, sehingga tanpa ragu aku pun telah memiliki cap sebagai anak Jakarta.

Lupakan sejenak kebisingan Jakarta dan segala aktivitasnya, 20 halaman mungkin tidak cukup jika aku menuliskan bagaimana kota ini bisa sedemikian meriahnya, karena bukan hal itu yang ingin aku jabarkan ditulisanku malam ini.

Memang kota ini telah memberikan banyak moment yang masih terekam sangat jelas dalam memory otakku. Semua kisah tentang hidup ku yang mungkin jauh dari kata sempurna, dan benar kata orang bijak yang mengeluarkan pernyataan bahwa,”Tak ada satu pun manusia yang sempurna”. Penjabaran kata tidak sempurna pun memiliki banyak definisi tergantung setiap orang mendefinisikan kekurangannya masing-masing. Seperti aku, mendefinisikan ketidaksempurnaan-ku dengan banyak hal, mungkin aku kurang cantik dibandingkan Dian Sastro aktris tersohor dengan film layar lebar percintaan anak muda yang melejit di tahun 2000an,  aku pun gak setajir anak keturunan keluarga Bakrie yang memiliki asset triliyunan rupiah, dan mungkin aku pun tidak memiliki IQ diatas rata-rata seperti kepintaran yang dimiliki kaum-kaum Yahudi yang bisa membuat dunia serasa kecil di tangan mereka. Aku hanya gadis yang di tahun 2013 ini menginjak umur 23 tahun, berambut hitam lurus, berwajah oval, berdahi lebar, dengan mata sipit, dan tinggi tidak kurang dari 155 cm, yaa.. hanya gadis biasa, peranakan lokal, berbahasa Indonesia sangat fasih. Tak ada keahlian khusus apapun yang aku miliki. Hanya saja Tuhan memberikanku wajah yang manis dan perilaku ku yang sosialis, sehingga dengan mudah aku bisa beradaptasi dengan lingkungan baru yang aku hadapi. Yaa.. kurang lebih begitulah deskripsi atas gadis muda yang berpola pikir 5 tahun lebih tua dibanding usianya.

Wajahku memang terlihat 3 tahun lebih muda dari umurku yang sebenarnya, tapi hidup yang menuntutku untuk bertindak 5 tahun lebih tua dari usiaku, bisa jadi karena aku terlahir sebagai anak pertama dalam keluarga atau memang jalan hidupku yang cukup menguras emosi sehingga aku harus berpikir dan bertindak ekstra untuk kelangsungan hidupku.. yaa.. bisa jadi!!

Ini kali yang kesekian aku ditemani teman lamaku si “insomnia”, insomnia sangat akrab denganku sejak semester-semester akhir kuliahku. Yah, wajarlah namanya juga mahasiswa dulunya.. kalau nggak ngerjain paper work, ya.. nongkrong sana-sini sama teman-teman yang notabene memiliki tipikal pergaulan yang sama denganku “anak nongkrong”. Sebutan “anak nongkrong” mungkin bisa kalian bayangkan sebagai anak gaul yang punya banyak teman disana sini, yang kuliah hanya pulang dan nongkrong, juga pulang dan nge-gaul, dengan IPK pas-pasan, dan kuliah lebih dari 5 tahun. Tapi aku bisa dikategorikan sebagai anak nongkrong berprestasi. Berprestasi dengan IPK cumlaude dan berprestasi dengan kuliah yang pas 5 tahun.. hahahaa…

Aku sangat senang menceritakan tentang kehidupanku yang menurutku sangat menarik untuk diceritakan, mungkin kalian sudah sedikit membaca atau sekedar melihat-lihat tulisan-tulisanku sebelumnya. Hidupku biasa saja, tapi ada saja hal yang ingin aku bagikan untuk kalian-kalian yang senang untuk mengeksplor dan belajar tentang bagaimana seseorang menjalani hidup dan mengatasi permasalahan hidupnya.
Sedikit aku mem-flash-back dibulan yang sama di tahun yang berbeda, satu tahun yang lalu, dimana aku pernah menulis tentang malam tahun baru yang aku lewatkan di kota Paris Van Java yang begitu mengesankan dan tidak terasa waktu begitu sangat cepat memburu resolusiku yang pernah aku tuliskan di lembaran diary hidupku di tahun 2013 ini.

2012 membawa banyak kenangan mengesankan. Hari, bulan, serta tahunnya merangkak dengan jelas mengiringi kisah-kisah hidupku yang tidak pernah berhenti setiap harinya. 2012 penuh dengan perjuangan-perjuangan untuk mengejar titelku untuk menjadi seorang sarjana, sampai saat ini masih terbayang peluh disaat aku harus bekerja shift disalah satu hotel bintang empat di Jakarta dan masih harus mengejar ketikan skripsiku selepas aku bekerja, atau sekedar mendengar ocehan bosku yang sudah terlalu bosan menceramahiku karena aku selalu bertukar waktu kerja dengan temanku dengan alasan bertemu dosen. Begitulah perjuanganku yang “alhamdulilah” telah mencapai titik yang aku impikan untuk menjadi seorang sarjana Ekonomi di salah satu Universitas Negeri di Jakarta.

Ternyata 2012 tidak berpihak padaku untuk urusan cinta, banyak sudah pria yang datang dan pergi dalam hidupku di tahun lalu. Entah untuk serius menyakitiku atau sekedar bermain perasaan dengan gadis berwajah lugu sepertiku. Whatever the reason.. yang pasti saat itu hingga memasuki awal tahun 2013 aku sudah mulai hopeless untuk urusan percintaan dan aku sudah mulai mempersiapkan diri untuk menjomblo hingga jangka waktu yang tidak ditentukan.

Begitulah tahun 2012 yang begitu mengesankan. Hari-harinya sangat antusias untuk aku jalani. Satu resolusiku untuk membuat ayah, bunda, nenek, kakek, dan adik-adikku tersenyum ketika aku memakai toga telah terangkum sangat sempurna di bulan November tahun 2012 tepat di hari wisudaku. Peluh, lelah, dan olok-olok nyinyir orang tentang hidupku dan keluarga telah terbayar dengan senyuman lepas bunda dan mata berkaca-kaca ayah, saat aku menaiki podium kehormatan sebagai wisudawati.

Sudah satu tahun ketika hari bahagia itu berlalu dengan sempurna dan hari ini di bulan ke-12 di akhir tahun 2013 sekali lagi mengingatkanku akan resolusi hidupku yang dengan hitungan hari harus segera aku evaluasi.
Begitulah aku, sangat terobsesi dalam hidup. Hingga hidupku pun harus ter-planning dengan baik.

Kini aku menginjak 9 bulan bekerja di salah satu hotel berkelas bintang 5 di Jakarta Pusat. Pekerjaanku yaah.. Alhamdulillah masih terbilang halal (hahaha..) sehingga aku masih punya semangat untuk mejalani hari-hariku sebagai seorang greeter a.k.a penyambut tamu di lobby hotel bintang 5 yang terbilang megah. Sebelum aku bekerja sebagai penyambut tamu, aku memiliki profesi yang tak kalah pamornya sebagai sekretaris direksi di salah satu perusahaan asuransi syariah milik salah satu dosenku ketika aku kuliah. Hotel memang memiliki grade salary yang lebih bagus dibandingkan dengan office, dengan iming-iming gaji yang tinggi, alhasil aku berpindah dari seorang sekretaris direksi menjadi seorang penyambut tamu. Tidak ada yang berbeda sih, kalau dulu sebagai sekretaris aku selalu greeting bos-bosku yang parlente dan sekarang aku juga meng-greet tamu-tamu hotel yang tak kalah parlente. Tak ada satu pun ilmu Ekonomi atau Akuntansi yang bisa aku implementasikan di tempat kerjaku saat ini. Terkadang ada perasaan bersalah atas ilmu-ilmu yang telah aku pelajari tapi tidak pernah aku bisa sumbangkan untuk sekedar sampingan atau sebagai profesi.

Dan hal itu menjadi beban terbesar ku saat ini.

Dulu aku selalu semangat kuliah untuk mengejar cita-citaku untuk menjadi seorang auditor handal, tapi aku harus terima kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang aku rencanakan. Banyak yang mengolok-olok pekerjaanku sekarang atau sekedar menyepelekanku yang hanya sekedar penyambut tamu bertitel sarjana ekonomi.

Sebenarnya bukan pekerjaanku sekarang yang membuat aku memiliki beban tetapi ilmu yang telah aku pelajari dan perjuangkan tidak bisa aku gunakan yang membuatku hampir berpikir kalau ilmu yang aku dapat hanya sia-sia. Tak ada masalah buatku untuk bekerja sebagai penyambut tamu selagi itu halal, toh perusahaan pun memberikan aku salary yang menurutku lebih dari cukup, tak pernah juga olok-olok atau ocehan nyinyir orang-orang tentang pekerjaanku sebagai penyambut tamu  menjadi masalah besar dalam hidupku, wong aku yang kerja kok orang-orang yang repot. Sehingga pada satu kali aku berpikir bahwa tujuan awal aku menerima pekerjaan ini karena kehidupan keluargaku, sebagai anak pertama sering kali aku menyetel pikiranku agar tidak boleh egois dalam hidup. Pekerjaan yang aku jalani sekarang memberikan aku banyak sekali pelajaran hidup yang berharga. Belajar dimana aku harus bekerja dari nol dan harus termotivasi untuk bekerja lebih baik dengan target jenjang karir, juga belajar ketika pekerjaan yang kamu impikan ternyata tidak bisa menghasilkan salary yang lebih untuk kelangsungan hidup keluarga, kenapa harus dipaksakan?! Dan ketika ada pekerjaan yang memang memberikan kecukupan materi untuk kehidupanku dan keluargaku, haruskah aku abaikan?!

Ini adalah hal terindah kesekian kalinya ketika aku bisa membahagiakan keluargaku dari hasil jerih payahku bekerja. Bukan keegoisan yang mungkin malah bisa membuat mereka bersedih. Memang mereka tidak pernah menuntut, tapi alangkah lebih bahagianya kedua orangtua ketika sedikit beban mereka terbantu oleh anak-anaknya.

Ketika aku berpikir bahwa aku tahu jalan mana yang terbaik untukku, ternyata Tuhan selalu punya jalan terindah untuk aku jalani dan memberikan banyak pelajaran dalam hidupku.

Hidup itu indah tergantung bagaimana kita menjalaninya. Tetap berucap syukur Alhamdulillah. :) 





2 komentar: