Senin, 10 Desember 2012

Nikmatnya Sebuah Kehilangan


Jam tidak terasa telah menunjukkan pukul 05.00 sore tepat waktu Indonesia bagian Barat. Tidak terasa begitu cepat aku kehilangan hampir 24 jam waktuku di hari ini. Kian lama begitu cepat waktu memburu segala aktivitasku dalam satu hari penuh, mungkin tidak pernah kita menyadari bahwa waktu berlari sangat-sangat cepat dan merenggut semua hal yang kita lakukan dengan sia-sia.

Yaahhh, begitulah waktu, selalu berputar dengan segala problematikanya. Bukan waktu yang aku persoalkan, tetapi esensi dari rotasinya waktu yang membuat aku merasa sangat-sangat kehilangan semua moment yang telah aku jalani. Semua moment berharga yang aku jalani dengan penuh peluh, duka, serta canda. Banyak hal yang kulalui bersama waktu, waktu yang merubahku dari seorang gadis kecil yang penuh canda menjadi seorang wanita dengan segala kedewasaannya, waktu pula yang menghilangkan momen-momen masa anak-anak dan pra remajaku menjadi sebuah memori usang yang kusimpan disebagian otak kananku. Tidak pernah ada penyesalan dengan apa yang dilalui oleh waktu, toh semuanya akan berjalan seiring dengan apa yang ditakdirkan Tuhan kepada hamba-Nya. Begitulah Allah SWT menggambarkan definisi waktu kepada orang-orang beriman di kitabnya dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr (103:1-3). Sungguhlah sangat merugi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu yang telah berlalu.

Terkadang manusia tidak hanya kehilangan waktu di dalam hidupnya, sebagai makhluk lemah yang mengaku dirinya sosok yang tak terbantahakan, padahal dalam kenyataannya, manusia sangat-sangat rapuh oleh unsur-unsur ekstrinsik yang mengusik kehidupannya, termasuk “kehilangan”.

Aku sangat benci kata “kehilangan”, sangat-sangat benci. Mungkin kebencianku akan kehilangan dapat menjadikan pribadi dan sifat di dalam diriku berubah hampir 180 derajat. Kehilangan itu sangat menyakitkan! Semua hal yang aku kira akan menjadi milikku selamanya, namun seketika akan hilang bagaikan semua tidak pernah terjadi apa-apa. Perih rasanya kehilangan sebuah keharmonisan dalam keluarga, sakit untuk bisa merasakan hilangnya rasa sayang dan cinta dari orang-orang yang kita sayangi. Terkadang ketika kita telah banyak mengalami kehilangan, indera perasa pun lelah untuk mengeluarkan hormon-hormon yang kita tangkap atas nama duka. Mungkin kehilangan bukan lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan ketika untuk kesekian kalinya hal tersebut terjadi dalam hidupmu.

Sekarang kehilangan menjadi seonggok hal misterius yang menjadi teman baikku dalam menjalani hidup. Terlepas dari ironi kebencianku terhadap hal tersebut. Namun essensinya kehilangan adalah hal yang diberikan Tuhan terhadap sesuatu yang telah dianugerahkan kepada kita, sehingga kita lebih menghargai apa yang kita miliki di dunia yang hanya sementara ini. Welcome “kehilangan”, aku akan berusaha menjadi teman terbaikmu.

1 komentar:

  1. mbak. saya Arini dari Universitas Airlangga Surabaya. bisa minta emailnya gak mbak? saya mau minta bantuan tentang skripsi saya. terimakasih

    BalasHapus