Jam tidak terasa telah menunjukkan pukul 05.00 sore tepat
waktu Indonesia bagian Barat. Tidak terasa begitu cepat aku kehilangan hampir
24 jam waktuku di hari ini. Kian lama begitu cepat waktu memburu segala
aktivitasku dalam satu hari penuh, mungkin tidak pernah kita menyadari bahwa
waktu berlari sangat-sangat cepat dan merenggut semua hal yang kita lakukan
dengan sia-sia.
Yaahhh, begitulah waktu, selalu berputar dengan segala
problematikanya. Bukan waktu yang aku persoalkan, tetapi esensi dari rotasinya
waktu yang membuat aku merasa sangat-sangat kehilangan semua moment yang telah
aku jalani. Semua moment berharga yang aku jalani dengan penuh peluh, duka,
serta canda. Banyak hal yang kulalui bersama waktu, waktu yang merubahku dari
seorang gadis kecil yang penuh canda menjadi seorang wanita dengan segala
kedewasaannya, waktu pula yang menghilangkan momen-momen masa anak-anak dan pra
remajaku menjadi sebuah memori usang yang kusimpan disebagian otak kananku. Tidak
pernah ada penyesalan dengan apa yang dilalui oleh waktu, toh semuanya akan
berjalan seiring dengan apa yang ditakdirkan Tuhan kepada hamba-Nya. Begitulah Allah
SWT menggambarkan definisi waktu kepada orang-orang beriman di kitabnya dalam
Al-Qur’an surat Al-Ashr (103:1-3). Sungguhlah sangat merugi orang-orang yang
menyia-nyiakan waktu yang telah berlalu.
Terkadang manusia tidak hanya kehilangan waktu di dalam
hidupnya, sebagai makhluk lemah yang mengaku dirinya sosok yang tak
terbantahakan, padahal dalam kenyataannya, manusia sangat-sangat rapuh oleh unsur-unsur
ekstrinsik yang mengusik kehidupannya, termasuk “kehilangan”.
Aku sangat benci kata “kehilangan”, sangat-sangat benci. Mungkin
kebencianku akan kehilangan dapat menjadikan pribadi dan sifat di dalam diriku
berubah hampir 180 derajat. Kehilangan itu sangat menyakitkan! Semua hal yang
aku kira akan menjadi milikku selamanya, namun seketika akan hilang bagaikan
semua tidak pernah terjadi apa-apa. Perih rasanya kehilangan sebuah
keharmonisan dalam keluarga, sakit untuk bisa merasakan hilangnya rasa sayang
dan cinta dari orang-orang yang kita sayangi. Terkadang ketika kita telah banyak
mengalami kehilangan, indera perasa pun lelah untuk mengeluarkan hormon-hormon
yang kita tangkap atas nama duka. Mungkin kehilangan bukan lagi menjadi sesuatu
yang mengejutkan ketika untuk kesekian kalinya hal tersebut terjadi dalam
hidupmu.
Sekarang kehilangan menjadi seonggok hal misterius yang
menjadi teman baikku dalam menjalani hidup. Terlepas dari ironi kebencianku
terhadap hal tersebut. Namun essensinya kehilangan adalah hal yang diberikan
Tuhan terhadap sesuatu yang telah dianugerahkan kepada kita, sehingga kita
lebih menghargai apa yang kita miliki di dunia yang hanya sementara ini. Welcome
“kehilangan”, aku akan berusaha menjadi teman terbaikmu.

mbak. saya Arini dari Universitas Airlangga Surabaya. bisa minta emailnya gak mbak? saya mau minta bantuan tentang skripsi saya. terimakasih
BalasHapus