Selasa, 06 November 2012

Tidak pernah ada kata sia-sia dalam Perjuangan


Alhamdulillahirrobil’alamin. Satu kalimat sakral yang dapat menggambarkan kegembiraanku terhadap gelar sarjana yang baru saja resmi menjadi predikat di akhir namaku. Menjadi seorang Sarjana Ekonomi merupakan cita-cita terdalamku semenjak aku menginjakkan kaki di bangku Sekolah Menengah Kejuruan 8 tahun lalu. Mungkin bagi sebagian orang mendapatkan gelar sarjana adalah hal yang biasa atau mungkin satu hal yang tidak penting di benak pikiran mereka, tapi tidak bagiku. Terlahir diantara keluarga menengah pinggiran kota Jakarta, tidak ada satu pun dibenakku untuk bisa melanjutkan belajar di perguruan tinggi ternama. Orangtuaku pun menyarankan aku untuk sekolah di sekolah menengah kejuruan agar selepas sekolah aku bisa langsung membantu orangtua secara financial, karena pada saat yang bersamaan ayahku sudah tidak bekerja dikarenakan imbas dari krisis global dunia serta 3 orang adikku yang masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Aku pun biasa pergi sekolah tanpa uang sangu karena aku tak bisa lagi meminta kepada orangtuaku , aku juga terbiasa untuk menahan rasa lapar karena tak ada uang sepeserpun yang aku bawa, terkadang teman-temanku sering menawari aku untuk makan bersamanya namun seringkali aku tolak karena rasa tidak enak hatiku. Tapi entah kenapa hati ini tidak pernah surut untuk memantapkan niat belajar di tempat para pemikir-pemikir ulung yang mereka sebut adalah “universitas”. Hasrat haus akan ilmu pun tak pernah hilang mengusik bayang-bayang pikiranku hingga akhirnya aku ucapkan niatku untuk melanjutkan kuliah kepada nenekku, nenek yang selama ini merawatku dari kecil hingga aku dewasa, nenek yang menjadi semangat hidupku untuk menjalani hari-hariku yang bermakna. Karena pada saat itu dipikiranku, dengan aku sekolah tinggi dan menggapai cita-citaku, aku bisa membawa keluargaku untuk bisa hidup lebih layak dan membahagiakan mereka. Satu tujuan mulia itu, didukung oleh seorang nenek berumur 58 tahun pada saat itu, nenekku yang notabene hanya lulusan sekolah rakyat, dan pada saat yang bersamaan dengan kondisi finansial yang serba kekurangan, tetapi beliau tidak pernah mematahkan semangatku, malah ia bertutur agar aku terus semangat. Satu kata motivasi yang terucap dari bibir lelahnya yakni, “jangan pernah luntur semangat nak, Allah SWT pasti menjanjikan rejeki untuk hamba yang ingin menuntut ilmu, jadi jangan pernah patah semangat dengan kondisi kita saat ini, tetap minta kepada-Nya di sepertiga malam dan doa-doamu setelah sholat fardu”. Aku yang saat itu sontak memeluk nenek yang sangat aku sayangi serta mencium tangannya untuk mencari keridhoannya.

Aku jalani semua nasihat nenek pada hari itu, ikhlas aku berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar aku bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Aku pun menjadi pribadi yang sangat-sangat realistis dalam hidup, aku terima jalan terbaik yang ditakdirkan Allah kepadaku.

Subhanallah, seminggu kemudian kakekku yang seorang pebisnis ulung mencari kabar tentang keluargaku setelah sekitar 2 tahun ia tidak ada kabar, masalah dalam keluarga yang membuat kakekku tidak pernah pulang lagi kerumah setelah ia memberangkatkan nenekku ke tanah suci, uang yang membuat kakekku lupa akan keluarga dan mencari kebahagiaan lain di luar sana. Tapi dengan kekuatan doa tulus orang tua dan nenekku, akhirnya kakekku berniat dengan senang hati untuk membiayai aku kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan Akutansi Internasional di perguruan tinggi ternama di Jakarta. Dari situ, aku menyadari bahwa Allah pun sangat dekat dengan hambanya yang mendekatkan diri kepada-Nya.

Memasuki kampus ternama dengan semua harapan-harapan yang aku gantung di langit-langit mimpiku, membuatku terus semangat dan menikmati setiap detik hariku di bangku kuliah. Belajarku pun aku barengi dengan kegiatan-kegiatan non-akademis kampus yang dapat mengembangkan dan menambah ilmu pengetahuanku.

Namun, Allah ternyata sangat sayang kepadaku, sehingga satu cobaan diberikan kepadaku di tahun ke-2 aku kuliah. Kakekku tidak lagi bisa mengirimkan aku uang dikarenakan usahanya yang makin lama mengalami penurunan serta banyak hutang dimana-dimana sehingga ia harus menjual asset-aset berharganya. Sempat aku berpaling jauh kepada-Nya dan mengutuk semua takdirnya, tetapi saat itu pula aku beristighfar dan mengumpulkan kembali puing-puing semangat dalam hidupku.

Aku sempat depresi karena 3 semester kuliah belum terbayarkan, alhasil aku mencari kerja-kerja sampingan sebagai guru privat hingga bekerja di salah satu hotel bintang 4 di Jakarta untuk melunasi hutang-hutang bayaran kuliahku. Dalam hal ini dosen dan akademik di kampusku memberikan kelapangan serta kemudahan untuk aku bisa tetap kuliah dengan menghutang uang semester, pernah aku mengajukan beasiswa,namun uang itu hanya cukup untuk keperluan sehari-hariku, sehingga aku pun memutar cara kerja otakku untuk dapat menyelesaikan studi yang sudah hampir selesai ini.

Aku mengorbankan satu tahun di semester akhir kuliahku untuk mencari uang, untuk membantu keluarga membiayai adik-adikku, dan untuk mencicil hutang bayaran semesterku yang jumlahnya belasan juta. Aku sempat putus asa, sempat aku patah semangat, namun Allah memiliki jalan indah di depan yang sayang untuk aku lewatkan.

Aku menikmati hidupku, aku menikmati segala takdir yang diberikan Allah kepadaku, aku menikmati mencari uang dari hasil keringatku, aku bangga untuk bisa membantu keluarga walaupun hanya sedikit. Dan ternyata, kuasa Allah SWT lebih hebat dari langit dan bumi. Dengan jalannya, aku bisa melunasi semua biaya kuliahku dan aku bisa menyelesaikan skripsiku dengan predikat amat baik. Kampusku pun memberikan ku predikat mahasiswa berprestasi atas prestasi akademikku.

Saat ini, aku hanya ingin bersyukur Tuhan atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku, aku bersyukur ya Allah atas jalan hidup serta pelajaran hidup yang Engkau berikan. Dengan segala cobaanMu, aku lebih bijak untuk bisa memaknai hidup, aku terbentuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, dan aku mematahkan segala persepsi tentang sulitnya hidup. Nothing impossible in this world if we have a will to reach our dreams come true. Dan aku bukanlah apa-apa, aku bukanlah siapa-siapa tetapi suatu saat nanti aku akan mengukir sejarah hidupku dan akan membuat orang-orang yang aku sayang tersenyum bahagia. Tidak ada kesulitan dalam hidup kalau kita berusaha dan terus berusaha mencari jalan keluarnya.  

2 komentar: