Alhamdulillahirrobil’alamin. Satu kalimat
sakral yang dapat menggambarkan kegembiraanku terhadap gelar sarjana yang baru
saja resmi menjadi predikat di akhir namaku. Menjadi seorang Sarjana Ekonomi
merupakan cita-cita terdalamku semenjak aku menginjakkan kaki di bangku Sekolah
Menengah Kejuruan 8 tahun lalu. Mungkin bagi sebagian orang mendapatkan gelar
sarjana adalah hal yang biasa atau mungkin satu hal yang tidak penting di benak
pikiran mereka, tapi tidak bagiku. Terlahir diantara keluarga menengah pinggiran
kota Jakarta, tidak ada satu pun dibenakku untuk bisa melanjutkan belajar di
perguruan tinggi ternama. Orangtuaku pun menyarankan aku untuk sekolah di
sekolah menengah kejuruan agar selepas sekolah aku bisa langsung membantu
orangtua secara financial, karena pada saat yang bersamaan ayahku sudah tidak
bekerja dikarenakan imbas dari krisis global dunia serta 3 orang adikku yang
masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Aku pun biasa pergi sekolah tanpa uang
sangu karena aku tak bisa lagi meminta kepada orangtuaku , aku juga terbiasa
untuk menahan rasa lapar karena tak ada uang sepeserpun yang aku bawa,
terkadang teman-temanku sering menawari aku untuk makan bersamanya namun
seringkali aku tolak karena rasa tidak enak hatiku. Tapi entah kenapa hati ini
tidak pernah surut untuk memantapkan niat belajar di tempat para
pemikir-pemikir ulung yang mereka sebut adalah “universitas”. Hasrat haus akan
ilmu pun tak pernah hilang mengusik bayang-bayang pikiranku hingga akhirnya aku
ucapkan niatku untuk melanjutkan kuliah kepada nenekku, nenek yang selama ini
merawatku dari kecil hingga aku dewasa, nenek yang menjadi semangat hidupku
untuk menjalani hari-hariku yang bermakna. Karena pada saat itu dipikiranku,
dengan aku sekolah tinggi dan menggapai cita-citaku, aku bisa membawa
keluargaku untuk bisa hidup lebih layak dan membahagiakan mereka. Satu tujuan
mulia itu, didukung oleh seorang nenek berumur 58 tahun pada saat itu, nenekku
yang notabene hanya lulusan sekolah rakyat, dan pada saat yang bersamaan dengan
kondisi finansial yang serba kekurangan, tetapi beliau tidak pernah mematahkan
semangatku, malah ia bertutur agar aku terus semangat. Satu kata motivasi yang
terucap dari bibir lelahnya yakni, “jangan pernah luntur semangat nak, Allah
SWT pasti menjanjikan rejeki untuk hamba yang ingin menuntut ilmu, jadi jangan
pernah patah semangat dengan kondisi kita saat ini, tetap minta kepada-Nya di
sepertiga malam dan doa-doamu setelah sholat fardu”. Aku yang saat itu sontak
memeluk nenek yang sangat aku sayangi serta mencium tangannya untuk mencari
keridhoannya.
Aku jalani semua nasihat nenek pada hari
itu, ikhlas aku berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar aku bisa melanjutkan studi
ke perguruan tinggi. Aku pun menjadi pribadi yang sangat-sangat realistis dalam
hidup, aku terima jalan terbaik yang ditakdirkan Allah kepadaku.
Subhanallah, seminggu kemudian kakekku yang
seorang pebisnis ulung mencari kabar tentang keluargaku setelah sekitar 2 tahun
ia tidak ada kabar, masalah dalam keluarga yang membuat kakekku tidak pernah
pulang lagi kerumah setelah ia memberangkatkan nenekku ke tanah suci, uang yang
membuat kakekku lupa akan keluarga dan mencari kebahagiaan lain di luar sana.
Tapi dengan kekuatan doa tulus orang tua dan nenekku, akhirnya kakekku berniat
dengan senang hati untuk membiayai aku kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
jurusan Akutansi Internasional di perguruan tinggi ternama di Jakarta. Dari
situ, aku menyadari bahwa Allah pun sangat dekat dengan hambanya yang
mendekatkan diri kepada-Nya.
Memasuki kampus ternama dengan semua
harapan-harapan yang aku gantung di langit-langit mimpiku, membuatku terus
semangat dan menikmati setiap detik hariku di bangku kuliah. Belajarku pun aku
barengi dengan kegiatan-kegiatan non-akademis kampus yang dapat mengembangkan
dan menambah ilmu pengetahuanku.
Namun, Allah ternyata sangat sayang
kepadaku, sehingga satu cobaan diberikan kepadaku di tahun ke-2 aku kuliah.
Kakekku tidak lagi bisa mengirimkan aku uang dikarenakan usahanya yang makin
lama mengalami penurunan serta banyak hutang dimana-dimana sehingga ia harus
menjual asset-aset berharganya. Sempat aku berpaling jauh kepada-Nya dan
mengutuk semua takdirnya, tetapi saat itu pula aku beristighfar dan
mengumpulkan kembali puing-puing semangat dalam hidupku.
Aku sempat depresi karena 3 semester kuliah
belum terbayarkan, alhasil aku mencari kerja-kerja sampingan sebagai guru
privat hingga bekerja di salah satu hotel bintang 4 di Jakarta untuk melunasi
hutang-hutang bayaran kuliahku. Dalam hal ini dosen dan akademik di kampusku
memberikan kelapangan serta kemudahan untuk aku bisa tetap kuliah dengan
menghutang uang semester, pernah aku mengajukan beasiswa,namun uang itu hanya
cukup untuk keperluan sehari-hariku, sehingga aku pun memutar cara kerja otakku
untuk dapat menyelesaikan studi yang sudah hampir selesai ini.
Aku mengorbankan satu tahun di semester
akhir kuliahku untuk mencari uang, untuk membantu keluarga membiayai
adik-adikku, dan untuk mencicil hutang bayaran semesterku yang jumlahnya
belasan juta. Aku sempat putus asa, sempat aku patah semangat, namun Allah
memiliki jalan indah di depan yang sayang untuk aku lewatkan.
Aku menikmati hidupku, aku menikmati segala
takdir yang diberikan Allah kepadaku, aku menikmati mencari uang dari hasil
keringatku, aku bangga untuk bisa membantu keluarga walaupun hanya sedikit. Dan
ternyata, kuasa Allah SWT lebih hebat dari langit dan bumi. Dengan jalannya,
aku bisa melunasi semua biaya kuliahku dan aku bisa menyelesaikan skripsiku
dengan predikat amat baik. Kampusku pun memberikan ku predikat mahasiswa berprestasi
atas prestasi akademikku.
Saat ini, aku hanya ingin bersyukur Tuhan
atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku, aku bersyukur ya Allah atas
jalan hidup serta pelajaran hidup yang Engkau berikan. Dengan segala cobaanMu,
aku lebih bijak untuk bisa memaknai hidup, aku terbentuk menjadi pribadi yang
tidak mudah menyerah, dan aku mematahkan segala persepsi tentang sulitnya
hidup. Nothing impossible in this world if we have a will to reach our dreams
come true. Dan aku bukanlah apa-apa, aku bukanlah siapa-siapa tetapi suatu saat
nanti aku akan mengukir sejarah hidupku dan akan membuat orang-orang yang aku
sayang tersenyum bahagia. Tidak ada kesulitan dalam hidup kalau kita berusaha
dan terus berusaha mencari jalan keluarnya.

ismaaa.. baru tahu gw,hehe.. u're so cool! :)
BalasHapuskeep fighting!!
Thank"s sist.. big hug
BalasHapus