Senin, 19 November 2012

Realitas Wanita Sepertiku..........


Dua puluh dua tahun umurku di tahun 2012 ini, mungkin ketika empat atau lima tahun lagi aku membaca tulisan ini, aku sudah menjadi wanita dewasa dengan segala problematikanya. Mimpiku untuk menjadi seorang istri dengan suami yang sangat aku cintai merupakan satu mimpi kecil dalam daftar mimpiku, yang jika aku dengan tidak sengaja memimpikannya, rasanya seperti ada satu denyutan nadi yang terasa nyeri di lubuk hati ini. Aku seorang wanita metropolis, pekerja keras, egois, realistis, sanguinis, menjadikan kehidupanku seakan semudah membalikkan telapak tangan, that’s simple life. Terlalu simpel hingga terkadang orang-orang yang dekat denganku menganggap pola kehidupan yang aku jalani adalah hal yang irrasional.

Banyak orang yang meramalkan bahwa kehidupan wanita metropolis sepertiku akan seperti tahanan yang terpenjara di balik jeruji besi, bisa bergerak namun sulit untuk keluar dan menatap dunia, atau seperti seniman teater yang memerankan berbagai peran namun lupa akan peran di dalam kehidupan pribadinya. Tidak sedikit pula yang membuat taruhan dalam menebak kehidupan wanita sepertiku, bertaruh kalau wanita sepertiku selamanya akan menjadi budak mimpi, yang akan terus mengejar angan-angan tanpa sadar waktu akan memburu masa mudaku dan lupa akan kodratku sebagai seorang wanita.

Dan sekarang, saat ini, saat aku mengetikkan sepuluh jariku di papan keyboard ini, aku merasakan ketakutan yang teramat sangat dari pertaruhan gambling atau sekedar celotehan iseng terhadap wanita metropolis sepertiku. Kurang lebih semua yang mereka perkirakan terhadap jalan hidupku adalah benar. Yaa benar, aku merasa seperti mesin waktu yang selalu bekerja, bekerja, dan bekerja, hingga mungkin suatu saat nanti mesin itu akan meledak hingga tak ada arah tujuan. Yaa benar pula, bila aku sudah menyingkirkan pola kehidupan sosialisme mutualisme dan aku pun lebih nyaman untuk tidak pernah mengurusi urusan orang lain yang tidak penting bagiku, sehingga sikap kesendirianku ditemani oleh sikap individualisme yang makin lama makin akut menguasai isi otakku.

Ketakutan terbesarku bukan kepada kesendirian dan individualisme yang saat ini mendominasi keselarasan pribadiku, yang ditakutkan oleh wanita sepertiku adalah tidak berfungsinya lagi perasaan yang dapat mendeteksi masuknya senyawa-senyawa positif seperti perasaan sedih, iba, bahagia, hingga perasaan cinta dan kasih.

Untuk saat ini, aku masih bisa untuk merasakan betapa manisnya rasa cinta dan kasih, walaupun ada sedikit indra perasa didiriku yang sudah tidak bisa berfungsi lagi untuk merasakan perasaan-perasaan ambigu yang aku sebut dengan cinta. Terlalu sakit pengalamanku bersama cinta, sehingga lambat laun wanita mandiri sepertiku berpikiran bahwa aku bisa sendiri tanpa cinta.

Seringkali aku memimpikan sosok pria dewasa yang bisa menarikku dari pola hidup irrasional yang aku jalani, pria yang bisa merubah pola pemikiran ironiku terhadap kehidupan berumah tangga yang bahagia, pria yang selalu bertutur kata lembut terhadap wanita keras sepertiku, pria yang selalu bersikap sabar saat semua keegoisanku merasuki cara kerja otakku, namun hal itu hanya ada dalam mimpi manisku akan sosok pria sempurna yang bisa meleburkan cara pandangku terhadap cinta.

Aku masih berada di tengah perjalananku untuk menjadi wanita metropolis yang sempurna, mimpi-mimpiku masih berada dalam batas rasional wanita pada umumnya. Aku pun masih berkeinginan untuk menjadi seorang istri yang baik bagi suami dan keluargaku nantinya.

Dipertaruhan masa depan dan umurku saat ini, sangat berat wanita sepertiku untuk dapat meraih kebahagiaan yang hakiki, sangat berat untuk melepaskan cita dan asa demi kehidupan yang mereka sebut atas nama cinta. Dan hingga saat ini aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk bisa menyelaraskan kehidupanku dengan semua angan dan cita-cita besarku nantinya.

Aku pun bertaruh dalam hidupku kalau aku akan mendapatkan apa yang ada di mimpiku dan kebahagiaan yang mereka sebut atas nama cinta. Dan kita lihat saja : )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar