Dua puluh dua tahun umurku di tahun 2012 ini, mungkin ketika
empat atau lima tahun lagi aku membaca tulisan ini, aku sudah menjadi wanita
dewasa dengan segala problematikanya. Mimpiku untuk menjadi seorang istri
dengan suami yang sangat aku cintai merupakan satu mimpi kecil dalam daftar
mimpiku, yang jika aku dengan tidak sengaja memimpikannya, rasanya seperti ada
satu denyutan nadi yang terasa nyeri di lubuk hati ini. Aku seorang wanita
metropolis, pekerja keras, egois, realistis, sanguinis, menjadikan kehidupanku
seakan semudah membalikkan telapak tangan, that’s simple life. Terlalu simpel
hingga terkadang orang-orang yang dekat denganku menganggap pola kehidupan yang
aku jalani adalah hal yang irrasional.
Banyak orang yang meramalkan bahwa kehidupan wanita
metropolis sepertiku akan seperti tahanan yang terpenjara di balik jeruji besi,
bisa bergerak namun sulit untuk keluar dan menatap dunia, atau seperti seniman
teater yang memerankan berbagai peran namun lupa akan peran di dalam kehidupan
pribadinya. Tidak sedikit pula yang membuat taruhan dalam menebak kehidupan
wanita sepertiku, bertaruh kalau wanita sepertiku selamanya akan menjadi budak
mimpi, yang akan terus mengejar angan-angan tanpa sadar waktu akan memburu masa
mudaku dan lupa akan kodratku sebagai seorang wanita.
Dan sekarang, saat ini, saat aku mengetikkan sepuluh jariku
di papan keyboard ini, aku merasakan ketakutan yang teramat sangat dari
pertaruhan gambling atau sekedar celotehan iseng terhadap wanita metropolis
sepertiku. Kurang lebih semua yang mereka perkirakan terhadap jalan hidupku
adalah benar. Yaa benar, aku merasa seperti mesin waktu yang selalu bekerja,
bekerja, dan bekerja, hingga mungkin suatu saat nanti mesin itu akan meledak
hingga tak ada arah tujuan. Yaa benar pula, bila aku sudah menyingkirkan pola
kehidupan sosialisme mutualisme dan aku pun lebih nyaman untuk tidak pernah
mengurusi urusan orang lain yang tidak penting bagiku, sehingga sikap
kesendirianku ditemani oleh sikap individualisme yang makin lama makin akut menguasai
isi otakku.
Ketakutan terbesarku bukan kepada kesendirian dan individualisme
yang saat ini mendominasi keselarasan pribadiku, yang ditakutkan oleh wanita
sepertiku adalah tidak berfungsinya lagi perasaan yang dapat mendeteksi
masuknya senyawa-senyawa positif seperti perasaan sedih, iba, bahagia, hingga
perasaan cinta dan kasih.
Untuk saat ini, aku masih bisa untuk merasakan betapa
manisnya rasa cinta dan kasih, walaupun ada sedikit indra perasa didiriku yang
sudah tidak bisa berfungsi lagi untuk merasakan perasaan-perasaan ambigu yang
aku sebut dengan cinta. Terlalu sakit pengalamanku bersama cinta, sehingga
lambat laun wanita mandiri sepertiku berpikiran bahwa aku bisa sendiri tanpa
cinta.
Seringkali aku memimpikan sosok pria dewasa yang bisa
menarikku dari pola hidup irrasional yang aku jalani, pria yang bisa merubah
pola pemikiran ironiku terhadap kehidupan berumah tangga yang bahagia, pria
yang selalu bertutur kata lembut terhadap wanita keras sepertiku, pria yang
selalu bersikap sabar saat semua keegoisanku merasuki cara kerja otakku, namun
hal itu hanya ada dalam mimpi manisku akan sosok pria sempurna yang bisa
meleburkan cara pandangku terhadap cinta.
Aku masih berada di tengah perjalananku untuk menjadi wanita
metropolis yang sempurna, mimpi-mimpiku masih berada dalam batas rasional
wanita pada umumnya. Aku pun masih berkeinginan untuk menjadi seorang istri
yang baik bagi suami dan keluargaku nantinya.
Dipertaruhan masa depan dan umurku saat ini, sangat berat
wanita sepertiku untuk dapat meraih kebahagiaan yang hakiki, sangat berat untuk
melepaskan cita dan asa demi kehidupan yang mereka sebut atas nama cinta. Dan
hingga saat ini aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk bisa menyelaraskan
kehidupanku dengan semua angan dan cita-cita besarku nantinya.
Aku pun bertaruh dalam hidupku kalau aku akan mendapatkan
apa yang ada di mimpiku dan kebahagiaan yang mereka sebut atas nama cinta. Dan
kita lihat saja : )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar