Kamis, 25 Oktober 2012

Bukan Suatu Kebetulan


Banyak hal yang dapat kita sebut sebagai suatu kebetulan, ketika kita bangun tidur, berangkat sekolah, berangkat kerja, sampai kita tidur kembali, terkadang kebetulan menjadi kalimat sakral yang tidak sengaja kita ucapkan. “ eh, kebetulan ya kita ketemu” atau “kebetulan banget sih gw dapet barang ini”. Sadar atau tidak kata kebetulan merupakan teman sehari-hari hidup kita. Kebetulan ketemu cewek atau cowok cakep, kebetulan nemu duit lima puluh ribu (yang ini ngarep.. hahaha), kebetulan jadi orang terkece di kantor, atau sekedar kebetulan nemuin pasangan hidup yang klop. Mungkin poin terakhir adalah kebetulan yang hakiki dalam dunia jomblo di Indonesia.

Kebetulan terkadang menjadi salah satu trending topic kehidupan manusia di dunia, dengan adanya kebetulan munculah kejutan-kejutan kecil sampai kejutan besar yang mungkin menjadi pengalaman berharga dalam kehidupan seorang anak manusia.

Seperti kisah hidupku, aku terkadang mensyukuri adanya suatu kebetulan jika hal itu berdampak baik bagi kehidupanku, rasanya seperti sesuatu yang tidak mungkin dan pada kenyataannya menjadi mungkin. Ingin sekali rasanya memiliki moment-moment kebetulan seperti itu kembali, ketika duit di dompet di akhir bulan tinggal satu lembar sepuluh ribu dan ketika itu pula saat sedang memesan mie instant di warkop favorit tiba-tiba ada gebetan datang dan ngebayarin smua pesenan yang kita pesan, rasanya itu, pengen meluk sang gebetan erat-erat sambil bilang you’re my everything.. ckckck. Atau ketika kita lagi desek-desekan di sebuah kopaja di tengah-tengah kota yang saat itu sedang macet parah, dengan sesak aroma citrus asem-asem manis ketek mas-mas yang males untuk sekedar beli deodorant, tiba-tiba dari samping kaca kopaja kita melihat teman kita sedang membawa sedan sportynya dengan lambaian tangannya mengajak kita untuk bareng satu mobil dengannya. Woow, hal itu merupakan kebetualan alamiah luar biasa dari sebuah jalan hidup, yang membuat kita mengucap “Oii Broo, kebetulan banget lo disini, hampir gila gw di kopaja”, (hahaha..).

Banyak kebetulan indah yang membuat bibir kita menggoreskan senyum untuk mengingatnya, tapi tidak sedikit pula kebetulan yang membuat kita sedih, duka, atau mungkin kita bisa mengorek-ngorek septic tank bila kita teringat akan kebetulan itu, kebetulan yang pertanyaannya, “why must in me?” atau “kenapa mesti gw siiihhhhh broooo?”. Pernah ingat ketika pada saat hari senin, ketika kita pakai baju putih – putih dan melakukan upacara bendera dan saat itu jg kita jadi pemimpin upacara satu sekolah, pada saat di tengah-tengah lapangan yang sepi, kita menangkap hal ganjil dan rasanya sangat-sangat ganjil, kita jadi pusat perhatian dan cekikikan teman-teman di barisan upacaranya, dan ketika itu pula kita baru ingat, kalau resleting rok/celana kita belum kita naikkan, dan hal itu menjadi pengalaman kebetulan memalukan kesekian yang mengisi lembaran hidupku. Itu belum seberapa dahsyat, dibandingkan kebetulan yang satu ini, kebetulan yang bisa buat kita gak nafsu makan selama berhari-hari, kebetulan yang membuat kita merasa menjadi manusia paling tidak berharga didunia, dan hal itu adalah ketika kita secara kebetulan menemukan seseorang lawan jenis dengan spesifikasi yang kita inginkan, dengan angan-angan yang bersambut, dan dengan kisah-kisah indah yang telah kita lalui bersama, namun dengan suatu kebetulan itu juga kita harus saling menyakiti dan berpisah.

Banyak kisah yang bisa kita sebut sebagai suatu kebetulan dalam hidup, tapi entah kenapa, tidak ada suatu kebetulan dalam hidup menurutku. Kita bertemu dengan seseorang, kita berada dalam suatu tempat, kita masuk dalam lingkungan tertentu, atau kita melakukan suatu hal yang bukan biasanya adalah bukan suatu kebetulan. Semua adalah takdir Tuhan yang banyak sekali pelajaran di dalamnya, mungkin rasa seneng, sakit, bahagia, duka, empati adalah kado dari setiap momen yang akan menjadi kisah usang di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar