Rabu, 10 Oktober 2012

Menghamba Pada Cinta


Ada sejuta alasan mengapa manusia tidak pernah bisa terlepas dari kata “Cinta”. Sejuta alasan itu pun mengalahkan milyaran rasa sakit hati yang diakibatkan oleh Cinta. Aku pernah terjebak dalam cinta dan aku pun sering sakit hati oleh cinta. Cinta terkadang tidak semanis artinya, tidak juga seindah tampilannya. Banyak orang tersesat oleh kata cinta yang selalu mereka agung-agungkan, terkadang mereka pun lupa akan hakikatnya dikarenakan oleh cinta. Mungkin nuklir pun bisa kalah dahsyatnya bila rasa cinta telah merasuk hingga ke sumsum tulang manusia.

Aku pernah menemukan satu cinta. Mungkin banyak ramalan cinta yang menyebutkan itu adalah benar-benar cinta, bahkan terkadang aku berfikir cinta itu adalah bukti jelmaan dewa amor terhadap seorang manusia lemah sepertiku yang haus akan cinta. Aku pun bertekuk lutut padanya, menyembahnya dengan semua rasa cinta, hingga aku dipenuhi oleh luapan nafsu cinta. Hidup menjadi sangat indah dengan adanya cinta, terkadang aku bisa melihat mentari tersenyum kepadaku menyambutku dengan pelukan mesra hangat sinarnya, atau bahkan lebih bodohnya lagi, terkadang aku sering mendengar burung-burung membisikkan nyanyian-nyanyian merdu yang mengalun mengisi langkah-langkahku di setiap harinya. Begitulah dahsyatnya cinta menghipnotis seluruh kehidupanku dan merubah seorang aku menjadi seorang pujangga cinta.

Belum cukup sampai disitu, cinta itu pun pernah satu kali merubah pemikiran ironi ku tentang arti cinta, merubah semua ke-idealisanku akan pemikiran negative tentang cinta. Cukup kuat aku berpegangan pada cinta sampai aku menggantungkan harapan semu tentang khayalan indah akan nikmatnya bercinta. Maha dahsyat memang rasa cinta.

Aku adalah bagian terkecil dibelahan dunia yang menjadi korban cinta. Soekarno pun menjadi pengagum cinta cassanova di zamannya, atau Lennon yang bisa bertekuk lutut hanya dengan satu orang wanita disampingnya.  Aku ternyata memang hanya satu dari milyaran orang didunia yang takluk akan cinta. Kisah ku pun mungkin tak seindah kisah-kisah cinta zaman Romeo dan Juliet hingga zaman Siti Nurbaya.

Banyak orang menganggapku sebagai penakluk cinta, banyak pula yang menganggapku pemain cinta, dan aku pun juga tidak cukup peduli dengan anggapan banyak orang tentang ku soal cinta. Toh, buktinya aku pun selalu dipermainkan oleh rasa cinta. Sebenarnya, cinta itu bukanlah suatu permainan, mencari mana yang kalah dan siapa yang menang. Cinta pun bukan suatu pertaruhan dalam sebuah perjudian. Tapi untuk saat ini, aku sudah Muak dengan paradigma ataupun persepsi tentang cinta. Aku benci untuk mendalami arti cinta. Aku pun menyerah pada penyesatan ideologi tentang cinta. Yang aku tahu aku menyerah dan menjauh pada cinta, hingga aku pun mengutuk cinta untuk tidak pernah singgah dalam hidup ku yang damai tanpa cinta.

Mungkin, kali ini dewa cinta putus asa melihat seorang hamba terluka atas nama cinta, hingga ia pun menangis teriris melihat panah cinta-nya untukku meleset ribuan kali. Aku pun tersenyum hingga tertawa bahagia ketika cinta dengan tragis meninggalkan luka dalam hidup seorang hamba cinta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar