Ada sejuta
alasan mengapa manusia tidak pernah bisa terlepas dari kata “Cinta”. Sejuta
alasan itu pun mengalahkan milyaran rasa sakit hati yang diakibatkan oleh
Cinta. Aku pernah terjebak dalam cinta dan aku pun sering sakit hati oleh cinta.
Cinta terkadang tidak semanis artinya, tidak juga seindah tampilannya. Banyak orang
tersesat oleh kata cinta yang selalu mereka agung-agungkan, terkadang mereka
pun lupa akan hakikatnya dikarenakan oleh cinta. Mungkin nuklir pun bisa kalah
dahsyatnya bila rasa cinta telah merasuk hingga ke sumsum tulang manusia.
Aku pernah
menemukan satu cinta. Mungkin banyak ramalan cinta yang menyebutkan itu adalah
benar-benar cinta, bahkan terkadang aku berfikir cinta itu adalah bukti jelmaan
dewa amor terhadap seorang manusia lemah sepertiku yang haus akan cinta. Aku pun
bertekuk lutut padanya, menyembahnya dengan semua rasa cinta, hingga aku
dipenuhi oleh luapan nafsu cinta. Hidup menjadi sangat indah dengan adanya
cinta, terkadang aku bisa melihat mentari tersenyum kepadaku menyambutku dengan
pelukan mesra hangat sinarnya, atau bahkan lebih bodohnya lagi, terkadang aku
sering mendengar burung-burung membisikkan nyanyian-nyanyian merdu yang
mengalun mengisi langkah-langkahku di setiap harinya. Begitulah dahsyatnya
cinta menghipnotis seluruh kehidupanku dan merubah seorang aku menjadi seorang
pujangga cinta.
Belum cukup
sampai disitu, cinta itu pun pernah satu kali merubah pemikiran ironi ku
tentang arti cinta, merubah semua ke-idealisanku akan pemikiran negative tentang
cinta. Cukup kuat aku berpegangan pada cinta sampai aku menggantungkan harapan
semu tentang khayalan indah akan nikmatnya bercinta. Maha dahsyat memang rasa
cinta.
Aku adalah
bagian terkecil dibelahan dunia yang menjadi korban cinta. Soekarno pun menjadi
pengagum cinta cassanova di zamannya, atau Lennon yang bisa bertekuk lutut
hanya dengan satu orang wanita disampingnya. Aku ternyata memang hanya satu dari milyaran
orang didunia yang takluk akan cinta. Kisah ku pun mungkin tak seindah
kisah-kisah cinta zaman Romeo dan Juliet hingga zaman Siti Nurbaya.
Banyak orang
menganggapku sebagai penakluk cinta, banyak pula yang menganggapku pemain
cinta, dan aku pun juga tidak cukup peduli dengan anggapan banyak orang tentang
ku soal cinta. Toh, buktinya aku pun selalu dipermainkan oleh rasa cinta. Sebenarnya,
cinta itu bukanlah suatu permainan, mencari mana yang kalah dan siapa yang
menang. Cinta pun bukan suatu pertaruhan dalam sebuah perjudian. Tapi untuk
saat ini, aku sudah Muak dengan paradigma ataupun persepsi tentang cinta. Aku
benci untuk mendalami arti cinta. Aku pun menyerah pada penyesatan ideologi
tentang cinta. Yang aku tahu aku menyerah dan menjauh pada cinta, hingga aku
pun mengutuk cinta untuk tidak pernah singgah dalam hidup ku yang damai tanpa
cinta.
Mungkin,
kali ini dewa cinta putus asa melihat seorang hamba terluka atas nama cinta,
hingga ia pun menangis teriris melihat panah cinta-nya untukku meleset ribuan
kali. Aku pun tersenyum hingga tertawa bahagia ketika cinta dengan tragis
meninggalkan luka dalam hidup seorang hamba cinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar