Rabu, 26 September 2012

Pahitnya Hidup


Tak pernah terlintas sedikitpun dipikiran ku untuk mengakhiri hidup ini dengan meminum baygon atau lompat dari gedung paling tinggi yang berada di tengah-tengah kota Jakarta. Tak satu pun angan-angan ku terlintas untuk tiba-tiba menerobos palang kereta api di saat kereta KRL Pakuan Express sedang lewat di tengah-tengah jalurnya. Pemikiran bodoh , orang putus asa yang diimplementasikan melalui aliran emosi hingga merasuk ke aliran arteri dan melewati pembuluh vena, hingga meradang di otak seorang manusia.

Memang , terkadang manusia memilih untuk terus-terusan sengsara dalam hidupnya, terus-terusan merasa dirinya paling di anak tirikan oleh penguasa alam, terus-terusan mengeluh hingga terus-terusan membuat masalah dalam hidupnya. Terkadang aku pun merasakan seperti itu, sampai aku bisa mencaci Tuhan, kenapa dia menciptakan ku di dunia yang “bangsat” ini.

Perasaan sakit yang aku rasakan dalam hidup, mungkin bisa sesakit ketika seseorang sedang berada dalam sakaratul maut. Perih, hingga ketika kau merasakannya, rasanya seperti luka yang ditaburi perasan jeruk nipis. Yaa.. hidup memang terkadang membawa kita ke pilihan-pilihan yang salah, hidup juga terkadang membawa kita ke dalam suatu lubang sedalam 500 meter hingga hampir tidak ada oksigen di dalamnya. Begitulah rasanya pahitnya hidup.

Tapi disitulah pelajaran berharga yang dapat kita ambil dalam hidup. Ketika kita belajar memahami apa yang diberikan Tuhan kepada kita, apa yang sudah menjadi Takdir-Nya, kita tidak akan bisa mengelak dari kuasa-Nya. Sehingga, hidup bisa menjadi guru yang paling berharga dalam kisah perjalanan seorang manusia.

Bersyukur adalah cara terbaik untuk memaknai hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar