Aku adalah
seorang sosok pemimpi kecil dan pengkhayal tingkat tinggi. Aku pun tidak pernah
takut jika teman-teman mencelaku sebagai seorang anak yang mempunyai daya
khayal yang berlebihan, sehingga terkadang aku bisa berbicara sendiri atau dengan
menggunakan media berupa cermin. Bahkan aku sangat-sangat nyaman dengan segala
mimpi-mimpi kecil yang aku tuliskan di atas sebuah buku harian usang setiap
malam sekitar jam 9 malam sebelum aku tidur.
Ya, benar. Aku
dibesarkan dengan sedikit perhatian dan kasih sayang orang tua, ya.. benar pula
jika masa kecilku aku habiskan dengan mengumpulkan mainan-mainan pemberian
orang tua dan kakek nenekku. Aku pun menghabiskan waktu seharian penuh dengan
berbicara sendiri dengan boneka yang aku sebut sebagai “bollu”. “Bollu” adalah
sahabat kecilku yang sekarang mungkin sudah menjadi penghuni lemari usang di pojok
gudang rumahku.
Orang tua
ku pun tidak pernah mengkhawatirkan kondisiku karena secara akademis dan
pergaulan teman sebaya pada umumnya aku baik-baik saja. Tapi entah kenapa aku
merasa ada yang lain dalam pribadi diriku. Kehidupanku pun normal seperti
anak-anak biasanya, keluargaku pun normal dan lengkap seperti keluarga
sederhana pinggiran kota yang penuh dengan warna warni emosi kehidupan finansial
Jakarta. Aku pun biasa untuk mendengar ocehan-ocehan emosi orang tuaku
mendebatkan permasalahan ekonomi yang tidak pernah selesai-selesai. Aku pun
biasa untuk berangkat sekolah tanpa uang sangu dan bekal makanan seperti
anak-anak yang lain pada umumnya.
Tapi hebatnya
aku adalah anak yang sangat-sangat prihatin dan pengertian dengan kondisi
keluargaku. Aku pun rajin untuk berangkat ke sekolah, rajin mengerjakan pr, dan
rajin membantu pekerjaan rumah orang tuaku selepas aku pulang sekolah. Seringkali aku mengkhayal ketika aku menimba
air untuk keperluan sehari-hari, betapa indah khayalanku untuk dapat membelikan
mesin air untuk keluargaku sehingga mereka tidak perlu capek untuk menimba air
di sumur tua di rumahku. Seringkali hati ku pun teriris ketika ayah dengan
lelah pulang kerumah selepas bekerja dengan peluh di seluruh tubuhnya ketika ia
hanya mendapatkan uang recehan dari hasil mengojek motornya.
Khayalanku berakhir
kepada mimpi-mimpi hebatku untuk dapat membahagiakan keluargaku. Mimpiku pun terus
ku ukir dengan semangat belajar dan pantang menyerah dalam segala lika liku
kehidupan. Aku gadis kecil pemimpi tidaklah mempunyai apa-apa untuk membuatku
maju dalam hidup tapi aku mempunyai semangat untuk meraih masa depanku dan
membahagiakan orangtuaku kelak nanti. Aku pun tidak akan dapat terus melangkah
tanpa keridhoan dan mustajab doa malam orangtuaku. Aku berhutang hidup padamu
bunda dan aku berhutang budi padamu ayah, anakmu tidak akan pernah berhenti
meraih cita dan asa. Semuanya ku persembahkan untuk kalian. Terima Kasih telah
menjadikanku gadis pemimpi luar biasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar