Rabu, 12 September 2012

Berawal Dari Mimpi Kecil


Aku adalah seorang sosok pemimpi kecil dan pengkhayal tingkat tinggi. Aku pun tidak pernah takut jika teman-teman mencelaku sebagai seorang anak yang mempunyai daya khayal yang berlebihan, sehingga terkadang aku bisa berbicara sendiri atau dengan menggunakan media berupa cermin. Bahkan aku sangat-sangat nyaman dengan segala mimpi-mimpi kecil yang aku tuliskan di atas sebuah buku harian usang setiap malam sekitar jam 9 malam sebelum aku tidur.

Ya, benar. Aku dibesarkan dengan sedikit perhatian dan kasih sayang orang tua, ya.. benar pula jika masa kecilku aku habiskan dengan mengumpulkan mainan-mainan pemberian orang tua dan kakek nenekku. Aku pun menghabiskan waktu seharian penuh dengan berbicara sendiri dengan boneka yang aku sebut sebagai “bollu”. “Bollu” adalah sahabat kecilku yang sekarang mungkin sudah menjadi penghuni lemari usang di pojok gudang rumahku.

Orang tua ku pun tidak pernah mengkhawatirkan kondisiku karena secara akademis dan pergaulan teman sebaya pada umumnya aku baik-baik saja. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang lain dalam pribadi diriku. Kehidupanku pun normal seperti anak-anak biasanya, keluargaku pun normal dan lengkap seperti keluarga sederhana pinggiran kota yang penuh dengan warna warni emosi kehidupan finansial Jakarta. Aku pun biasa untuk mendengar ocehan-ocehan emosi orang tuaku mendebatkan permasalahan ekonomi yang tidak pernah selesai-selesai. Aku pun biasa untuk berangkat sekolah tanpa uang sangu dan bekal makanan seperti anak-anak yang lain pada umumnya.

Tapi hebatnya aku adalah anak yang sangat-sangat prihatin dan pengertian dengan kondisi keluargaku. Aku pun rajin untuk berangkat ke sekolah, rajin mengerjakan pr, dan rajin membantu pekerjaan rumah orang tuaku selepas aku pulang sekolah.  Seringkali aku mengkhayal ketika aku menimba air untuk keperluan sehari-hari, betapa indah khayalanku untuk dapat membelikan mesin air untuk keluargaku sehingga mereka tidak perlu capek untuk menimba air di sumur tua di rumahku. Seringkali hati ku pun teriris ketika ayah dengan lelah pulang kerumah selepas bekerja dengan peluh di seluruh tubuhnya ketika ia hanya mendapatkan uang recehan dari hasil mengojek motornya.

Khayalanku berakhir kepada mimpi-mimpi hebatku untuk dapat membahagiakan keluargaku. Mimpiku pun terus ku ukir dengan semangat belajar dan pantang menyerah dalam segala lika liku kehidupan. Aku gadis kecil pemimpi tidaklah mempunyai apa-apa untuk membuatku maju dalam hidup tapi aku mempunyai semangat untuk meraih masa depanku dan membahagiakan orangtuaku kelak nanti. Aku pun tidak akan dapat terus melangkah tanpa keridhoan dan mustajab doa malam orangtuaku. Aku berhutang hidup padamu bunda dan aku berhutang budi padamu ayah, anakmu tidak akan pernah berhenti meraih cita dan asa. Semuanya ku persembahkan untuk kalian. Terima Kasih telah menjadikanku gadis pemimpi luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar