“Egois”
adalah satu kata yang memiliki beragam makna. Egois bisa jadi kelemahan dan
bisa jadi kelebihan dalam suatu sifat manusia. Aku seorang manusia “egois”,
begitulah menurutku dan menurut cara pandang hidupku. Egois bukan hanya sekedar
seberapa besar ego kita untuk mendapatkan hal yang kita inginkan, egois juga
tidak hanya seberapa kuat kita mempengaruhi seseorang untuk mengikuti seluruh egoisme
kita. Egois adalah ketika kita bisa berdiri sendiri diambang batas
ketidakmampuan kita ketika orang-orang terdekat kita memikirkan egoisme mereka
sendiri. Itulah “Egois” yang ada dalam diriku dan aku yakin hal itu tidak akan
pernah bisa hilang sampai kapanpun.
Terkadang keegoisanku
membuat orang terdekatku menganggapku teramat buruk apalagi keegoisan tersebut
di implementasikan dalam hal-hal yang mengganggu pola pemikiranku. Dan akan
menjadi “Aku” dengan penuh argumentasi dan kritisasi ke-egoisan pemikiran yang
mungkin tidak akan pernah bisa dicerna bagi orang lain lawan bicaraku.
Semua
terasa hambar tanpa sifat “Egois”. Egois menjadi lebih berwarna ketika semua
orang menentang ke-egoisanku dengan egoisme mereka. Terkadang orang menganggap
dirinya tidak pernah egois, mungkin mereka menganggap dirinya korban dari
ke-egoisan seseorang. Tetapi tanpa mereka sadari, mereka sendiri adalah
orang-orang egois dalam konteks kenyamanan ke-egoisan mereka.
Aku tidak
akan pernah munafik, kalau aku adalah seorang wanita “Egois”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar