Rabu, 15 Agustus 2012

Sosok Seorang Aqu Part 1


Tersirat sekilas di pikiranku, tiba-tiba sangat ingin untuk mengutarakan isi hatiku dalam bentuk tulisan. Hmmmm… mungkin karena factor kesepian, atau sekedar gag ada orang yang memang aku percaya untuk mendengarkan segala keluh kesahku. Ya.. mungkin. Tapi ironisnya, banyak sekali orang-orang yang dekat denganku bahkan mungkin sayang kepadaku, jangan sebut teman-temanku, semuanya kalau dihitung barangkali mencapai ratusan, atau bahkan ribuan.

Ya , aku memang sosok orang yang sangat pemilih dalam mengutarakan isi hatiku, karena menurutku sikap penerimaan dan perhatian seseorang sangat berbeda dalam menerima atau menyampaikan isi masalah, karena salah-salah nanti semua cerita dan pesan dalam setiap masalahku malah menjadi suatu bahan cemoohan atau bahkan beban tersendiri pada lawan bicaraku. Naah, hal tersebut yang sangat aku hindari. Oleh karena itu, pribadiku menjadi introvert bahkan terkadang sangat-sangat kesepian.

Kesepianku itu menjadi sangat-sangat terealisasi dengan karakter didalam diriku yang enggan untuk bisa terbuka tentang diriku dan kehidupanku kepada orang lain, sekalipun sahabatku sendiri. Mungkin karena aku merasa kehidupan dan pribadiku tidak seberuntung mereka. Jadi, aku berprinsip, biar aku dan Tuhan saja yang tahu bagaimana aku menjalani hari-hariku yang sangat bermakna.

Dibalik semua ke-tertutupanku terhadap orang lain tentang semua pribadi dan kehidupan yang aku jalani, aku merupakan seorang pribadi yang cukup menyenangkan. Yaa.. itu menurut teman-temanku. Aku bersikap seperti itu, mungkin untuk menutupi semua beban-beban kehidupan yang aku jalani, jadi aku lebih bersikap ceria apabila bergaul dengan teman-temanku. Yaa, mungkin karena itu, teman-teman yang sebaya denganku sangat senang untuk bisa berteman denganku.
Mungkin kamu berpikir, seberapa sedihnya siih kehidupan yang aku jalani, hingga aku sampai begitu menutupi semua sisi-sisi kehidupanku.

Kalau menurutku, setiap kehidupan seseorang memiliki jalannya masing-masing. Kalau ditanya seberapa sedih, mungkin aku jawab, “cukup” untuk dibilang hidupku sedih. Bukan karena aku tidak punya rumah, tidak punya orang tua, atau aku tidak pernah makan dalam sehari.. hahahha,, itu sangat “lebay” kalau menurut anak-anak jaman sekarang. Mungkin jika diambil kesimpulan dalam masalah kehidupanku, aku cuma pribadi yang butuh akan “perhatian” dan “kasih sayang”.

Perhatian dan kasih sayang ternyata sangat penting peranannya dalam kehidupan seseorang menurutku. Karena kurangnya dua hal tersebut yang membuat seorang “aku” menjadi remaja labil yang sering menyendiri, membuat aku menjadi pribadi yang introvert, dan membuat aku menjadi
sulit untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekatku terutama orangtuaku. Ditambah lingkungan dan cara didikan orang tua yang tidak membiasakan untuk berkomunikasi dua arah dengan anak-anaknya, sehingga terjadi miskomunikasi dalam hubungan keluarga.

Umurku sekarang 21 tahun di tahun 2011 ini, semakin berganti hari, bulan, dan tahun, aku sangat merasakan pergantian sifat serta pola pikir dalam kehidupanku. Terkadang aku merasa sangat jauh lebih dewasa dibanding dengan umurku sekarang. Aku tidak pernah untuk mengeluh pada sebuah pernyataan-pernyataan pahit dalam hidupku, karena aku pikir, hal itu hanya membuang-buang energy dan pikiran, jadi aku sekarang hanya sekedar lebih bersyukur kepada Tuhan atas semua karunia-karunia yang telah Ia berikan kepadaku.

Sosok aku, hanyalah seorang gadis kota biasa yang lebih tepatnya gadis yang dilahirkan di pinggiran kota, kota yang dialiri oleh sungai ciliwung, yang setiap musim penghujan selalu dikirimkan air bah dari kota hujan. Aku tidak pernah bangga untuk bisa dilahirkan di tengah-tengah ibukota, bahkan aku tidak pernah mau kalau di cap sebagai anak kota. Mengapa demikian? Karena aku bukan anak-anak kota mayoritas lainnya, yang bisa jalan-jalan dengan pakaian parlente bermerek yang di pajang di mall-mall ternama di ibukota, aku juga bukan anak-anak kota yang biasa menghabiskan akhir pekan mengelilingi kota Jakarta dengan sedan sporty masakini, aku adalah anak kota minoritas yang tinggal di gang-gang sempit yang penuh dengan anak-anak kecil usia tiga tahun sampai tujuh tahun yang kerjanya hanya lari-larian di sepanjang gang daripada harus menuruti ibunya untuk tidur siang, aku juga terbiasa dengan teriakan-teriakan penjaja keliling yang meneriakkan dagangannya, sampai tukang minyak tanah, tukang sayur, sampai tukang kredit yang selalu terhalang jalannya oleh panggilan ibu-ibu yang hanya sekedar memberantakkan dagangan-dagangannya. Ya, itulah kehidupanku dari aku lahir sampai aku menuliskan tulisan ini.

Aku sadar dan aku sangat mengerti kondisi kehidupan aku dan keluargaku saat ini, “ayahku” hanya lulusan STM yang berlokasi didaerah Blok M, yang karena satu dan lain hal ia tidak bisa untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, ayahku sosok ayah yang sangat-sangat tidak terbiasa untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya, termasuk aku, dari ke-tiga saudara-saudarku, hanya aku yang tidak bisa berkomunikasi baik dengan orangtuaku, termasuk ayahku, yang setiap harinya aku sebut dengan panggilan “papa”. Sejarahnya, 13 tahun aku tinggal terpisah dengan orangtuaku, karena nenek dan kakekku yang merawat, membesarkan, hingga membiayai aku sekolah sampai ke perguruan tinggi. Semenjak financial crisis, terjadi perubahan drastis di keluarga orangtuaku, yang tadinya mereka hidup terpisah dari kakek nenekku, dengan mengontrak rumah 3 petak di daerah Bintaro, akhirnya ayahku tak lagi sanggup membiaya kebutuhan keluarga dengan 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Akhirnya orangtuaku terpaksa tinggal bersama kakek dan nenekku di daerah pinggiran kota yang sampai sekarang masih aku tempati.

Pekerjaan ayahku tidak menentu setelah terjadinya krisis global, perusahaan tempat ia bekerja pun tak lagi mampu untuk membayar karyawan-karyawannya, karena hanya lulusan STM, ayahku pun terkena PHK dari tempat ia bekerja. Semenjak itu tidak ada perputaran uang dalam kehidupan keluargaku dan semua biaya dibebankan ke kakekku yang waktu itu berumur sekitar 60tahun.
Kakekku bersuku chinesee yang berasal dari daerah Sumatera Utara, kakekku sosok pemikir ulung dan bertangan dingin dari segi bisnis. Bayangkan di usianya yang ke 60tahun, ia masih bisa pergi ke luar kota, hanya untuk mengurusi usahanya. Usaha kakekku di bidang oli pelumas, ia membuat sendiri oli tersebut dan mendistribusikannya ke daerah-daerah. Aku tidak pernah tau dan tidak pernah bertanya berapa omset usahanya, yang aku tahu, kakekku bisa membiayai aku sekolah dari taman kanak-kanak sampai aku masuk perguruan tinggi dan terhenti sampai aku masuk semester 4 di fakultas ekonomi, jurusan akuntansi internasional, di salah satu universitas negeri di Jakarta, karena tak ada lagi kabar dari kakekku semenjak ia pergi ke luar kota mengurusi usahanya. Kakekku juga mampu untuk membiayai saudara-saudara aku yang kurang mampu untuk bisa hidup lebih layak, serta kakekku juga bisa memberangkatkan nenekku pergi ke tanah suci pada tahun 2001. Itulah sosok kakekku yang di tahun ini sudah hampir 3 tahun menghilang dan tidak pernah ada kabarnya lagi.

Begitu rumit kehidupan keluargaku dan begitu sulit aku melihat mereka menjalani kehidupan tanpa ada penopang ekonomi dalam keluarga.
Aku sadar dan sangat sadar akan hal itu. Dengan berbagai kesulitan dalam keluargaku, aku tidak pernah merasa sedikitpun gentar dan menyerah dalam hidup. Aku hidup untuk berguna bukan jadi manusia yang tidak berguna.

Disaat tidak ada lagi satu orangpun yang bisa membiayai sekolah ku di perguruan tinggi, disaat itu aku yakin kalau aku masih punya Tuhan yang mempunyai isi dunia dan karena Dia-lah sampai sekarang aku bisa bekerja sambil mengumpulkan uang untuk keluargaku dan biaya kuliahku.

Terkadang aku sangat miris melihat kehidupan masyarakat yang kondisi keluarganya termasuk dalam golongan menengah kebawah, selain tidak mempunyai motivasi untuk maju, terkadang mereka tidak mau merubah pola pikir mereka tentang kehidupan. Aku sering bertemu banyak orang dan aku suka belajar dari pola-pola kehidupan yang mereka jalani.
Aku banyak belajar dari hidup, yang aku tau “orang sukses bukanlah orang yang mempunyai banyak uang, orang sukses adalah orang yang bisa keluar dari pola pikir yang mengkurung mereka dari titik kenyamanan dan rasa cukup mereka, serta mereka selalu optimis untuk menjalani kehidupan walaupun dalam kondisi sesulit apapun”.

Sampai saat ini pun, “aku” sosok gadis pinggiran kota yang selalu punya semangat serta impian yang sangat-sangat tinggi sampai aku pun tidak pernah takut untuk merasakan sakitnya rasa terjatuh, “aku” yang sampai saat ini sangat-sangat percaya, kalau pendidikan bukan hanya untuk mereka yang punya orangtua berpenghasilan jutaan sampai ratusan juta perbulannya, pendidikan itu adalah milik setiap anak-anak bangsa yang mau berjuang untuk bisa menggapai semua cita-citanya.

Alasan ekonomi lemah, alasan tidak punya biaya, sampai alasan takut akan pelajaran atau mata kuliah hitung-hitungan, merupakan alasan orang-orang Indonesia yang selalu jiwanya ingin dijajah oleh bangsa lain, yang jiwanya ingin selalu menjadi kacung oleh investor-investor asing yang telah bersistem kapitalis.
Akankah tingkat kemiskinan dan ketidaksejahteraan akan terus seperti ini jika tunas-tunas bangsa masih menyerah dalam kondisi hidupnya??

(continue…..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar