Minggu, 25 Desember 2016

Cerita Memang Tidak Selalu Indah, Tergantung Bagaimana Menyikapinya.. Happy New Year 2017

Menggunakan istilah alur mundur dalam sebuah cerita, semua kisah yang ter- flashback pasti mengingatkan kembali kepada sosok gadis kecil nan manis yang penuh dengan angan dan cita-cita.
Lingkungan tidak sepenuhnya mendukung semua harapan, setidaknya dukungan motivasi orang tersayang dan diri sendiri cukup untuk membuat jalan hidup menjadi begitu mudah. 



Jalan ku terasa tertatih, sejak kondisi ekonomi keluarga semakin terasa menyedihkan. Sebagai anak pertama dan diasuh oleh orang tua papaku, aku sudah mulai belajar prihatin sedari kecil karena kakekku mengajarkan hal seperti itu. Tak ada hadiah jika aku tidak jadi juara kelas, tak ada jalan-jalan jika nilai sekolahku dibawah rata-rata. Pernah satu kali aku merasa sangat kedinginan karena nenekku menghukumku dengan mengguyur seluruh badanku yang masih berseragam sekolah sambil mencubit paha kanan ku ketika melihat nilai matematika sd ku mendapat point 5. Nilai yang memalukan katanya dengan nada tinggi. Aku menangis. Dan sejak saat itu, aku benci dengan angka 5. Sangat! 

Memasuki sekolah menengah pertama hingga sekolah kejuruan favorit sebenarnya tidak membuatku merasa bangga. Biasa saja. Belajar giat sudah makanan keseharianku. Karena dengan belajar, aku tahu bahwa masa depanku akan lebih baik. 

Aku sosok perempuan yang sederhana seharusnya, karena memakai jeans dan kaos oblong terasa sangat bahagia bagiku. That's a simple me! 

Hidupku memang ku buat sedemikian simpel sampai pada suatu saat aku merasa dunia sedemikian rumitnya, Kakekku pergi, ayahku di phk dr pekerjaannya, aku masih sekolah, adikku juga sekolah, dan disaat yg sama aku terserang manic depresif serta obsessive compulsive disorder. 
Aku menyembuhkan diriku sendiri dengan menyembunyikan-nya bertahan tahun dari orang-orang terdekatku. 
Sekolah dan masa depanku merupakan hal yg lebih penting dibanding kelainan kepribadian mental ku. 

Aku tidak pernah mau menceritakan kesedihanku, kemarahanku, atau kekecewaanku. Cukup aku yang merasa bahwa diasingkan, dikucilkan, tidak dihargai, dan di judge merupakan hal yang memang harus diterima tanpa harus membalas. 
Sebutan anak haram, anak kampung, anak terlantar sudah mampir ke telinga sejak aku kecil. Aku sedih tetapi aku tidak pernah membalas. 

Dari kecil aku tidak pernah diajarkan membalas semua hal yang menyakitkan hatiku. Jalan hidup yang mengajariku apa itu balas dendam!
Bukan dengan kembali mencaci, cukup dengan membuktikan bahwa hidupku bisa sebegitu bahagia nya.

Bukan dengan mengutuk, cukup dengan berdoa yang terbaik untuk jalan hidup mereka. 

Usiaku 26 tahun di tahun ini, penghujung tahun yang kembali mengingatkanku apa arti dari kehidupan. 

Apa yang sudah pergi memang harus diikhlaskan, apa yang diraih memang semestinya disyukuri.

Terima kasih Tuhan  untuk segala jalan hidup yang kau tunjukkan. Terima kasih telah menciptakan kesempurnaan dibalik ketidaksempurnaan. Terima kasih ayah mengajari kami arti bertahan hidup. Terima kasih semua yang mengenalkanku kesedihan dan kekecewaan, aku tidak akan pernah sekuat dan setegar ini jika tidak ada kalian. 
Terima kasih cinta yang telah berulang kali menyakiti hingga aku mengerti apa itu kesetiaan. 

Dan aku akan trus berjuang.  

#withlove 
#lovemywonderfullife 

*shouraya

2 komentar: